Tampilkan postingan dengan label Training Revolusi Kesadaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Training Revolusi Kesadaran. Tampilkan semua postingan

26 Maret 2008

Perubahan Paradigma Gerakan Mahasiswa:“Syarat Revolusi Massa”

Sekelompok orang menumpang sebuah perahu, berlayar di laut, membelah gelombang. Masing-masing mendapatkan tempat duduk. Salah seorang dari para musafir itu, menyatakan bahwa tempat duduknya adalah miliknya, mulai membuat

sebuah lubang di bawah tempat duduknya dengan sebuah alat tajam. Andaikata para musafir itu tak segera menahan tangannya dan mencegahnya dari berbuat demikian, tentu mereka semua, termasuk si celaka itu, akan terancam tenggelam.

[Rasulullah Muhammad SAW]

Dengan indahnya, Sang Revolusioner Nabiyullah Muhammad SAW mengilustrasikan hubungan antara individu, masyarakat, dan proses penyempurnaan hidup yang tak terpisahkan di antara keduanya. Muhammad SAW tidak hanya memandang peranan individu (pribadi) dalam kehidupan, tapi juga massa (ummat). Demikian akhirnya, dalam dienul-Islam, setiap individu tidak saja memiliki tugas untuk beribadah yang bersifat individual, akan tetapi juga bersifat massal. Ibadah tidak hanya dilakukan oleh pribadi, tapi juga oleh masyarakat. Sampai akhirnya, rupanya kategori dosa pun tidak bersifat personal an sich, tapi banyak di antaranya yang disebut dosa sosial....


Demikianlah, proses penyempurnaan hidup itu sendiri pada dasarnya dilakukan melalui proses interaktif satu sama lain. Karena, pembagian individu dan masyarakat ini hanya berada pada wilayah konsepan (persepsi), sementara dalam realitasnya satu sama lain sulit dipisahkan, maka mencapai kesempurnaan itu sendiri akhirnya menuntut kerja masyarakat. Hingga di sini dapat disimpulkan bahwa tugas perubahan sosial dalam mencapai maslahat itu sesungguhnya menjadi tugas masyarakat di tiap zamannya. Bahkan, tidak hanya temporer, tugas suci ini sesungguhnya diemban secara bersama-sama oleh masyarakat di tiap dan dari zaman ke zaman berikutnya. Inilah tugas sepanjang hayat kemanusiaan bagi seluruh generasi manusia.

Kendati begitu, pada tataran realitasnya, tentu saja peranan itu dibagi berdasarkan kapasitas yang dimiliki komponen pada sekelompok manusia. Dalam artian, sungguh naïf mengharapkan akan dijalankannya suatu peranan sosial, sementara komponen itu sendiri tidak memiliki kapasitas yang bersesuaian untuk menjalankan hal ini. Karena itu, selalu saja ada tuntutan berbeda bagi kelompok raushanfikr (tercerahkan) dan belum tercerahkan dalam mengemban tugas perubahan. Bagai sekawanan nabi yang memikul tugas kenabiannya, komponen ini sesungguhnya tergolong pewaris tahta kenabian, yang pada intinya sama-sama memikul tugas menggerakkan perubahan sosial di tengah masyarakat demi terciptanya kesempurnaan jiwa kemanusiaan. Dalam mushaf al-Qur’an, mereka ini disebut sebagai ulil-albab.

Oleh karena keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari kepemilikan ilmu (‘ulama) dan gelora cinta di dada akan cahaya kebenaran, maka dapat diprediksikan bahwa mereka ini tergolong ke dalam kaum terpelajar. Dalam domain keindonesiaan, mereka ini boleh jadi merupakan para mahasiswa. Ini bisa jadi terlampau berlebihan, karena itu ada beberapa catatan penting terkait dengan keberadaan kelompok dimaksud, akhir-akhir ini. Meski begitu, wujud mungkin berupa potensi besar gerakan mahasiswa untuk menjalankan tugas sosial, tentu tak hilang begitu saja. Wujud mungkin itu adalah kekuatan dahsyat.

Kenapa demikian? Karena, jika mengikuti alur berpikir common-sense, mahasiswa adalah kelas menengah tercerahkan, antara rakyat kebanyakan dan negara, hasil seleksi dari suatu komunitas masyarakat urban. Konstituen, budaya, dan struktur yang berkembang di dalamnya punya konotasi ilmiah-rasional dan intelektualisme, sehingga ditempeli banyak embel-embel kesucian moralitas, kecendekiaan, dan heroisme.

Kendati begitu, ada banyak pembahasan yang mungkin subversif jika diketengahkan di sini (tapi tak apa, sebab, kulil-haqqo-walau-kaana-murron). Potensi revolusionernya (mahasiswa) mungkin karena masa pubertas mereka yang ‘gue banget!’ bisa menggoyahkan tatanan sosial-budaya bangsa. Lepas dari jelas atau tidaknya pandangan dunia mereka, semua perilaku mereka menjadi elitis dan ya itu tadi ‘ilmiah’.

Sebagai missal, ketika masih termasuk golongan pelajar (sekolah formal), tawuran mereka adalah bagian dari ikatan group, diilmiahkan dalam istilah nakalnya anak muda, sasarannya adalah sesama pelajar. Setelah jadi mahasiswa, sasaran beralih ke polisi dan disebut sebagai wujud radikalisme. Keren abis dah! Kalo pelajar dapat nilai jeblok, disebut bodoh, sedangkan mahasiswa dapat nilai D, itu disebut karena aktivitas. Jadi, kadang agak bias juga antara demonstrasi sebagai sikap peduli rakyat. Karena, bisa juga emoh kuliah.

Apakah pada praktiknya nilai-nilai idealisme terintegrasi dalam tubuh aktivis mahasiswa atau tidak, perlu kita kritisi. Artinya, banyak faktor yang membuat mahasiswa seperti itu. Sistem percepatan kuliah produk propaganda rektorat agar kampusnya bisa di-cap sebagai lembaga disiplin. Lembaga disiplin tubuh bonafid yang bisa meluluskan mahasiswa dalam kurun waktu 3 tahun, plus embel-embel cum laude. Ditambah fenomena elite penguasa untuk menumpulkan kritisisme dengan cara menaikkan harga masuk kuliah yang nyusahin ortu, plus tradisi keluarga yang stress, kenapa anaknya belum lulus-lulus, belum dapet calon mantu, dan gurita kapitalisme global yang lebih menyukai tipe mahasiswa taat dan professional, siap menjadi boneka pabrik, yang kudu link and match dengan dunia hasil rekayasa korporasi trans-internasional dan negara.

Lihat tubuh bongsor mahasiswa, badan mereka membesar dan dewasa, jauh banget dibanding mahasiswa era dahulu, tapi itu akibat suntikan hormonal dan ekstraksi multivitamin ditambah makanan suplemen dan KFC. Tidak alamiah. Mereka juga besar dalam aksi jalanan, sebagai simbol ‘peduli’ pada nasib bangsa dengan menjual air mineral gelasan, atau nongkrongin perempatan bawa bendera dan kardus indomie yang bertuliskan, “Kencleng Sumpah Pemuda”. Semua itu adalah aktualisasi hasil lobbby antara senior almamater dan organisasinya. Jalanan rame, tapi penuh dengan retorika kosong, emosi labil dan miskin ide orisinil. Suka ngomong revolusi dan pakai kaos Che Guevara di mall-mall dan kafe, tanpa paham betul apa itu revolusi, gimana nyusunnya, gimana mimpinnya, pokoknya funky, asal beda dengan situasi kondisi sosial politik sekarang, itulah revolusi. Absurd banget!

Maka, tidak salah bila rakyat tidak mengerti omongan mereka. Sebab, mereka bukan lagi berasal dari rakyat, melainkan telah menjadi jongos elite. Kalaulah mereka sempat menjadi aksesoris sebuah perubahan sosial, tiada satupun dari mereka yang mengemuka sebagai ideolog. Mereka bisa ‘tidur’ dengan masyarakat dalam KKN atau protes Penggusuran Tanah. Sayangnya, seperti Santa Clauss, perilaku eksibisionis ini tidak menyentuh hati dan paradigma rakyat, melainkan sekedar mengubah dan menambah bentuk material saja. Yang tadinya memakai sungai sebagai jamban sekarang beralih ke MCK, atau mengecat mesjid, membuat nama jalan, pokoknya sama dech kayak AMD (ABRI Masuk Desa). Memang tidak salah, sebagaimana juga Santa Clauss, tidak salah membagi-bagi hadiah ke anak-anak.

Tapi, lain soal ketika mendudukan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat dan kaum tertindas. Mahasiswa yang jauh dari massa rakyat ini jauh dari hati, semangat, bahasa, dan penderitaan bangsa. Kita bisa kalkulasikan seberapa banyak mereka masih berbicara soal tek-tek bengek kenegaraan ketimbang problem riil rakyat. Mengapa? Karena, bicara kebijakan pemerintah adalah bicara kursi yang mempengaruhi periuk nasi elite. Kemampuan berbicara tentang struktur yang tidak didukung dengan praksis (abstraksi ideologi yang bersentuhan langsung dengan perubahan sosial) hanya memproduksi aktivitas salon, manekin solek dan penumpulan rasa.

Kalaulah muncul kesadaran tentang penderitaan rakyat, itu sifatnya temporer. Sama seperti masturbasi, kenikmatan sesaat, hasil manipulasi kesadaran. Kenapa? Sebab, tidak mungkin membela rakyat sambil asyik makan indomie, sedang di sisi lain sebagian besar rakyat menggantungkan hidup pada sawah-padi-beras? Padahal, makan nasi jauh lebih bergizi dan sehat ketimbang makan sebungkus indomie. Harganya juga lebih murah koq! Maka, tiba waktunya bagi kita mendekonstruksi paradigma dan sikap kosong seperti ini. Kesalahan terbesar mahasiswa adalah malas mengasah pemikiran, berdialektika dengan membaca dan berdiskusi, dan menyusun jaringan aktivitas. Ilmu tidak boleh dipahami sebagai wacana saja, “yang penting bisa lulus UAS!”. Tapi juga, mesti dikritisi dalam praktis sosialnya.

Umumnya, mereka agak sulit mau sadar berfikir sistem. Berfikir sistem itu adalah bagaimana menyusun program dan strategi ke depan. Wajar, bila setiap LDKM, LKMM, dan LKM, atau pembinaan di lembaga mahasiswa kampus cuma mengulang saja. Tidak ada kurikulum yang jelas buat pengkaderan di kampus. Beres jadi eksekutif, balik lagi kuliah. Hihihh, pensiun jadi aktivis ya, mas!

Padahal, yang namanya mengurus BEM itu kerjanya luar biasa besar. Kalau kita mimpin BEM, lalu bayaran kuliah tetap naik, anggota biasa ga dapet beasiswa, atau pemilihan rektor masih tidak melibatkan mahasiswa, mending BEM bubar saja. Jangan pernah berpikir mengatasi sistem negara yang bobrok kalau masalah kampus saja kita takut mengkritik Rektor.

Mahasiswa harus punya kesadaran untuk membawa rakyat pada nilai-nilai transenden yang lebih luhur, lebih dari sekedar perubahan struktural (ganti pejabat) dan material. Tapi, sebelum sampai ke sana, mereka harus sabar membina diri menguatkan konsep berpikir-berdialektika-beraksi di diri mereka sendiri. Jangan berkoar-koar soal negara dan dunia jika kita tidak mau sedikit mengeluarkan keringat untuk mengasah logika dan memperkaya pisau analisa dengan membaca banyak buku. Apabila seseorang menetapkan bagi dirinya sendiri untuk mengadakan reformasi masyarakat, maka ia harus berbeda dengan rakyat biasa.

Ia tidak boleh memiliki kelemahan-kelemahan rakyat biasa. Sebuah hadits pernah mengatakan, “Orang yang hendak menjadi pengurus rakyat, haruslah pertama-tama mendidik dirinya, setelah itu mendidik rakyat. Seorang guru atau pelatih diri sendiri, lebih mulia dari seorang guru dan seorang pengurus bagi orang lain”. Revolusi bukan jamuan makan malam atau diskusi-diskusi sambil pesen Cafucino, plus kretek, sembari mengulang-ulang puisi WS. Rendra. Ingat, puisi gak pernah bikin revolusi, Bung!

Selain itu, mereka juga perlu mendekatkan diri dengan realitas masyarakat sebagai asal dan rumah mereka menimba ilmu. Jujur saja, jika pendidikan kita disubsidi oleh rakyat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua kita sendiri, dan menyadari hal ini semua, mereka (mahasiswa) baru bisa menjadi titik api yang berfungsi sebagai sumber kehidupan yang membakar, mencerahkan, dan menggerakkan rakyat.

Dengan penelaahan kritisnya, kehadiran mereka seperti cahaya, terang menerangi dirinya dan menerangi susuatu di luar dirinya. Seperti dikutip dalam Kitab Verdata, “Orang besar itu seperti lelaki yang mengusung pelita dalam kegelapan. Orang yang tidak memilikinya tidak punya pilihan lain, kecuali mendekat dan mengikutinya tanpa pamrih”.

Tinggal sekarang, kita bicara soal hitung-hitungan waktu. Mengutip ucapan Mao Tse Dong, “Revolusi adalah momentum yang disusun dari seribu tahun pasukan, yang dipergunakan pada sebuah subuh!” Untuk menyusunnya, kita perlu perubahan paradigma dan kurikulum perkaderan di Ormawa. Dimulai dengan membangun kesadaran berpikir dan menambah ilmu dengan banyak membaca, menyusun kebiasaan berargumentasi yang benar dengan belajar logika, dan keterampilan praktis di lapangan yang untuk bisa diterapkan di masyarakat atau masa depan mahasiswa sendiri kelak.

Last but not least, ada baiknya kita kutip ucapan arsitek proklamasi kemerdekaan RI Bung Hatta, “Revolusi menggugurkan semua karat-karat, dan melonggarkan perbautan dari sistem. Setelah itu ia harus disusun kembali dengan segera!!!” Untuk itu, revolusi butuh pandangan yang luas dan wawasan yang padu. Revolusi bukan romantisme berleha-leha. Revolusi adalah kerja. Tinggal masalah waktu kapan kita menuainya. Kita tuai itu semua esok hari. Kalaupun kita tidak mengalaminya, biarlah anak-cucu kita yang merasakan segarnya dunia. Minimal, mereka (anak-cucu kita), tidak menyalahkan atau bahkan bersedih hati telah terlahir ke dunia, karena adegan seksual (entah karena dorongan nafsu syahwat atau ibadah) yang kita lakukan, yang mengakibatkan seorang perempuan mengandung benih manusia baru itu. Ingat Bung! kita tidak hidup untuk hari kemarin. Melainkan, untuk esok hari. Ingat, untuk esok hari! “We’re living for tomorrow. Not for yesterday”. Ayo Bung!

Marhaban ya Ramadhan. Allahu Akbar !!!

Di hari ke-3 shaum di Bulan Ramadhan yang biasa-biasa aja tuh (jangan sok jadi sufi gitu lah. Norak tau!).

Saat para artis, pejabat, dan sebagian ustadz konyol berubah wujud menjadi seperti ‘malaikat’

Saat sebagian orang menyatakan Ramadhan adalah bulan berkah. Rakyat miskin (muslim) mah menjerit susah.

Bagaimana mau berkah, mas. Harga BBM tuh naik. Pokoknya, multi-efek lah, yang kesimpulannya,

“rakyat (penulis dan orang tua penulis yang juga muslim) makin sengsara!”



Read More......

POSMODERNISME


Postmodernisme, adalah istilah yang kerap muncul dalam wacana studi-studi sosial budaya belakangan ini. Istilah ini diperkirakan muncul dalam terminologi yang berkaitan dengan arsitektur sebagai sebuah proyek budaya. Kata posmodernisme adalah kata jadian dari modernisme, dimana penambahan -post- bermakna setelah, atau pasca. Pasca yang dimaksud adalah penolakan terhadap ide-ide geometris Euclidean yang kaku, terstruktur, dan penuh perhitungan dalam karya-karya bangunan era modern. Arsitektur posmodernisme menurut Rieff adalah arsitektur yang membebaskan orang dari setiap aturan-aturan baku, arsitektur yang menurutnya berbasiskan pada psiko-analisis Freud, arsitektur libido, arsitektur pelepasan hasrat.

Semangat gerakan merombak (dekonstruksi) aturan baku dalam dunia arsitektur ini yang dikemudian menggagas perkembangan gerakan anti-struktur (pasca- strukturalisme) dalam segala bidang seperti ekonomi, bahasa, sosial budaya, komunikasi dll. Gagasan posmodernisme yang diadopsi adalah kritik atas konsep-konsep konservantif yang melingkupi fisikal-mental kehidupan manusia, bahwa modernisme telah menjebak manusia ke dalam tiga fiksi besar ; representasi, reason, history. Fiksi yang lahir dari ketakutan dan kebutaan manusia untuk membedakan antara keharusan kebenaran (define truth) dengan mitos-mitos dan norma-norma yang dikembangkan masyarakat. Manusia terjebak dalam kebebasan dan aturan sosial yang menghegemoni. Ketabuan dan pamali (taboo) yang menyebabkan manusia cukup bangga dalam wilayah-wilayah reproduksi mental, atau konsep representasi pada masa lampau, kegiatan yang menjadikan manusia girang dengan kekakuan-kekakuan aturan yang melingkupi diri mereka.

Representasi dan Reason

Dimulai dari kritik mengenai fiksi representasi, penggagas postmodernisme mencoba menerangkan bahwa makna representasi (penghadiran kembali) yang didengungkan dalam masyarakat untuk memunculkan ide-ide spiritualitas, sains, atau apapun di setiap kegiatan manusia dalam ruang hidup, sebenarnya hanya reproduksi mental biasa dan tak memiliki makna apa-apa. Kegiatan seperti upacara bendera, maulud, natal, sebenarnya hanyalah kegiatan yang biasa dikerjakan oleh orang-orang di masa lampau, tanpa ada makna bahwa itu semua ditujukan sebagai representasi atau menunjukkan kecintaan pada bangsa, ideologi, nabi, atau Tuhan.

Istilah representasi ini oleh Peter Eisenman, dalam arsitektur diterangkan menjadi sesuatu yang kemudian berkembang menjadi konsep decoding, bahwa sebenarnya tidak pernah ada perbedaan antara konsep representasi dengan realitas. Apa yang dilakukan manusia hanyalah menafsirkan kode-kode masa silam dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial namun diasosiasikan kepada banyak hal. Dalam hal ini bisa agama, ideologi, sains, norma, atau aturan-aturan baku. Pada kenyataannya apa yang dilakukan oleh manusia hanyalah representasi, dan representasi atas realitasnya. Seperti pembabtisan dalam agama kristen, bukanlah kegiatan pembabtisan yang sebenarnya melainkan hanya representasi dari kegiatan pembabtisan yang dilakukan oleh Yesus terhadap murid-muridnya.

Konsekuensinya dari pendapat ini adalah batalnya segala bentuk pembenaran (reason) atas konsep yang dibangun, sebab pada kenyataannya tindakan manusia hanyalah resepresentasi dari simulasi-simulasi yang hadir melalui simbol-simbol. Semisal konsep baju koko, kopiah hanyalah simulasi yang mengatasnamakan kesucian kitab suci (scriptum), aliran modernisme dan positivisme hanyalah ideologi yang seledar simulasi dari ilmu pengetahuan (science). Apa yang ditampilkan sebenarnya bukanlah inti dari kesucian melainkan makna permukaan (face-value). Istilah yang dalam termin filsafat dikenal sebagai bentuk-bentuk imanen, alias bentuk realitas yang tak membutuhkan pondasi kebenaran apapun, kondisi bebas hasrat, tak memerlukan satu konsep autentik, dan tak perlu ada pembenaran orisinalitas. Dalam pandangan ini sebenarnya tak pernah dan perlu ada klaim pembenaran (reason), dan pemaksaan (hegemoni), serta tingkatan kesucian (hirarki) dalam setiap tindakan manusia.

Lebih jauh konsekuensinya adalah, bahwa segala sesuatu itu memiliki perbedaan yang sama dan setara, dan setiap sesuatu memiliki kebenaran argumennya masing-masing. Sebab sebagaimana maklum setiap sesuatu telah menjadi bukti atas dirinya sendiri (self-evident), sehingga setiap pendapat dapat dibenarkan dan relatif. Jika setiap sesuatu memiliki keswabuktian maka jelas bahwa tindakan manusia tidak akan pernah berhenti pada kurun sejarah tertentu dan pengertian tertentu. Di sinilah lahir makna difference (pembeda) dalam posmodernisme menjadi penunda (differ), setiap hasrat tindakan manusia adalah benar pada kondisi tertentu. Setiap kurun waktu hanya melahirkan makna-makna yang tertunda dan bukan menjadi penanda dirinya dalam ruang simulasi hasrat yang pada hakekatnya memang tak pernah memiliki batas.

Makna ter-Tunda

Merujuk kepada Baudrillard posmodernis mencoba memetakan pemikiran fiksinya sebagai satu pelampiasan hasrat yang tak berhenti pada satu titik. Ruang simulasi hasrat dimana manusia mampu menciptakan kondisi adaptatif terhadap keadaan apapun. Keinginan yang tak berbatas tadi secara langsung menciptakan percepatan yang berbanding lurus dengan hasrat. Menimbulkan chaos, sebab ruang simulasi tadi hanya bersifat kesementaraan, karena ia memiliki kemampuan bereproduksi secara liar. Sehingga manusia senantiasa dikondisikan untuk melihat pada masa kini (present) sebagai sebuah temporalitas, dengan harapan besok akan ada perbedaan (difference), dalam posisi tunda (delay) inilah sebenarnya harapan (hope) tadi berubah menjadi kegelisahan (chaos). Namun kegelisahan tadi merupakan posisi krusial dan kritis untuk terus bergerak, menjajaki kemungkinan-kemungkinan (probabily of promises), menjadi semacam semangat zaman.

Dimana probabilitas ini tidak merujuk pada masa lalu, atau kaidah-kaidah baku, atau representasi sebelumnya, sebab apapun dimungkinkan pada posisi krusial seperti orang yang akan tenggelam yang mencoba meraih apapun yang ada didekatnya. Posmodernisms yang sebenarnya adalah yang memiliki makna seperti ini, yang menjadikan ke-absensi-an makna dalam waktu tunda tadi sebagai struktur ideologinya.

Posmodernisme dan Kebosanan baru

Kepanikan dari kekuasaan diri sendiri untuk berkehendak dan hasrat dalam ruang simulacra tadi, melahirkan heterogenitas, multiplisitas, keragaman bentuk-bentuk (polymorphous), ketidak-berhinggaan, ketidakberbatasan yang kesemuanya melahirkan produk yang akan terperangkap dalam keseketikaan (nir-waktu) dalam bentuk keusangan-keusangan baru (new-obelescent). Sebab kegelisahan dan panik/chaos hasrat tadi menciptakan simulasi keinginan yang datang-pergi dalam kecepatan tinggi. Sehingga makna dari post-modernisme sendiri adalah ketiadaannya waktu jeda dan interupsi, dengan kata lain tidak akan sempat ada intervensi order dan sakramen suci dalam tindakan manusia ini.

Mengutip wacana tubuh dari Foucault tentang teori, kekuasaan atas tubuh, dan kekuasaan yang memancar dari tubuh berupa kehendak dan hasrat. Orisinalitas kemampuan ini melahirkan struktur ketidakhadiran dalam teks, keterbebasan makna, dan kelihaian arbitrasi dengan apapun dan kapanpun, dengan menjadikan posmodernise sebuah wacana yang independen.

Dalam ke-absensi-an dari orde dan order inilah maka semua konsep mengalir terus ke dalam poros promiskuitas (promiscuity), yaitu medan prinsip yang membolehkan kaidah apa saja tanpa batas. Sehingga perubahan dalam pandangan posmodernisme adalah semangat dari untuk mendekonstruksi setiap bentuk kemapanan apapun. Melahirkan semangat yang tidak mengharus-kan seseorang berpikir bahwa tindakannya perlu kepada alasan-alasan (reasons), sejarah (histories), acuan moral (references) serta butuh argumentasi kebenaran (representation of truth) apapun sebagaimana teori konservatif. Post-modernisme berpijak pada kemampuan manusia untuk membedakan makna mengetahui dengan “mengimani”, sebab kontek mengetahui jauh lebih berarti ketimbang sekedar mengimani masa silam dan “meng-amini” yang telah ada.

Dalam kondisi demikian manusia akan selalu menjaga makna krusial dalam semangat untuk terus bergerak dalam memenuhi motivasi hasrat tadi, inilah yang disebut sebagai permulaan motivasi (beginning). Di sisi lain kebergerakan dalam kondisi tidak stabil tadi memustahilkan akan adanya keberhentian (the end) maka inilah yang disebutnya sebagai keberakhiran segala permulaan (the ends of the beginning). Dengan cara yang sama maka makna yang terbangun tentang akhir dari permulaan ini adalah bahwa pikiran manusia tidak perlu memiliki permulaan atau akhir, landasan atau tujuan, manusia senantiasa dalam kondisi gerak dan berubah.

Posmodernisme dan budaya massa

Meskipun pada awalnya kajian posmodernisme banyak menggunakan terminologi tentang ruang representasi simulatif (simulacra) untuk menunjukkan ketakberbatasannya hasrat manusia, tetapi tidak dapat disangkal pada akhirnya terminologi post-modernisme sendiri kemudian terjatuh pada kontradiksi budaya dan kerancuan identitas hasrat itu sendiri. Ketika post-modernisme malah menjadi budaya pemicu pemerdekaan hasrat (the liberation of desire) yang tak terkendalikan lagi oleh kaidah yang dicanangkannya sendiri. Apa yang diketengahkan sebagai hasrat adalah apapun yang dapat menggugah selera manusia terhadap kesenangan (pleasure), termasuk di dalamnya hasrat untuk menyakiti, memusnahkan.

Euporia kebebasan yang berganti-ganti dengan kecepatan tinggi menjadikan kegelisahan dan kepanikan dalam masyarakat posmodern, sebab demikian kuatnya tarikkan konsumerisasi ideologi oleh sedotan mainstream kapitalisme-lanjut, membuat setiap produk kebudayaan terjebak ke dalam pola-pola trendi. Melahirkan kebosanan-kebosanan konsumtif, dimana masyarakat dihadapkan dalam pilihan untuk terus mengikuti perkembangan mode dan melahirkan perilaku konsumtif. Apabila ditilik lebih jauh, kepanikan ini akan berujung kepada pemuasaan belanja dan konsumsi kesenangan, baik itu bertema hiburan maupun keagamaan.

Bentuk-bentuk pencarian kesenangan tadi bergerak pada kondisi dilematis, dimana seseorang dipaksa mensimulasi kesenangannya massif melalui media massa dengan tontonan kebodohan (stupidity) dengan cara menertawakan lawakan yang mengeksploitasi kebodohan, hiburan kesalahan (false) ala sinetron, penderitaan (pain) orang yang dikerjai, kemalangan (poorness) copet yang dipukuli massa, kengerian (thillerness) film horor atau tayangan hantu, dan kesakitan (masochism) dalam bentuk diet, baju ketat, sepatu hak tinggi dll.

Tema-tema simulasi diri inilah yang kemudian dikembangkan oleh banyak pengamat kebudayaan posmodernisme dengan istilah realitas lampau yang melampaui (hyperreality). Sehingga ketika Jean Baudrillard mengkritik simulasi yang berlebihan dalam budaya baru ini, ia menulis ; “post-modernisme sebenarnya tidaklah pernah membuang ajaran moralitas lama, ia memakainya, akan tetapi dengan cara-cara yang menyimpang ”

Jangan Bosen-bosen mampir ke Blog HMI Cabang Bandung

Read More......

REVOLUSI KESADARAN

Marx, pemikir komunis itu pernah menulis sesuatu dalam sejarah, satu ungkapan yang menjadi motto perjuangan kaum tertindas untuk meraih hak-hak material mereka. Kaum penindas hanyalah memperkaya hidup mereka, dan buruh hanyalah korban penindasan kerakusan kapitalisme. Oleh karena itu kaum tertindas harus memperjuangkan hak-hak mereka dalam sebuah revolusi besar, dan itu hanya bisa dicapai dengan pertentangan antar kelas, antara buruh dan kapitalis penindas, oleh karenanya ia menulis; “kaum buruh dunia bersatulah”.

Marx sebagaimana pemikir dari barat lainnya, lahir dari sebuah ketidakjujuran sejarah, ketika pengusaha menghisap tenaga buruh. Ketika pengusaha menindas rakyat. Dan ketika agama menjadi dogma pembenar kedzaliman. “Agama adalah candu”, katanya. Ia juga melanjutkan bahwa agama tidak memiliki jiwa revolusioner, agama hanyalah statis, agama hanya membuat orang terbuai dalam kebodohan. Maka jiwa sebenarnya dalam sebuah masyarakat adalah pertentangan itu sendiri, dan masyarakat adil makmur akan dicapai dari sebuah pertentangan besar bernama revolusi ledakan.

Sampai sekarang teori sosialnya masih mendapat tempat dalam wacana pergerakan apapun bentuknya, bahwa pandangan hidup lahir dari teori-teori peperangan dan pertentangan. Kesadaran hanyalah lahir dari pertentangan kelas, maka ia membuat satu tesis tentang pergerakan, yang banyak dikutip oleh pemikir-pemikir barat lainnya dan pemikir Islam yang Marxist. Sebuah tesis yang ditulis Marx tentang gerak dan pergerakan adalah bahwa gerak terjadi karena dialektika kontradiksi, bahwa hidup pada hakikatnya adalah perjuangan kepentingan antar kelas. Seperti yang ia contohkan tentang kelas menengah penindas dan tertindas, orang merdeka dan budak, majikan dan pelayan, penjajah dan terjajah.

Demikianlah, suatu ketika ia menulis dalam buku besar yang menjadi acuan kerja gerakan komunis dunia, Das Kapital. Perjuangan sesungguhnya ia melanjutkan, adalah kondisi di mana berhadapannya kepentingan untuk memenuhi hasrat-hasrat material duniawi. Maka hanya satu kondisi di mana kita dapat memenangkan perjuangan hasrat material itu, yaitu kelas-kelas harus ditiadakan dengan cara mempertentangkannya. Seorang budak harus melawan majikannya, si terjajah melawan penjajah, dan buruh melawan pemilik modal. Sekali lagi ia berkata lantang; hasrat pembebasan hanyalah dapat dicapai dengan pertentangan dalam sebuah revolusi ledakan, dan kaum tertindaslah yang harus memimpin revolusi ledakan itu.

Tapi teori ini begitu absurd dan semu. Sebab kadang ketika urusan material tersebut terpenuhi, ketika kaum buruh mendapatkan hak usaha dan tenaga yang dia berikan kepada sebuah usaha, maka berhentilah keinginan berevolusi tadi. Mungkin Marx kaget ketika sekarang, buruh mendapatkan penguasaan modal terbesar dalam sebuah koperasi. Jika demikian halnya, jenis revolusi apalagi yang oleh seorang buruh harus perjuangkan ketika hak-hak mereka telah terpenuhi tanpa melalui sebuah revolusi?

Jika marx mengatakan bahwa kaum buruh dan orang tertindaslah yang berhak memimpin evolusi meraih nilai-nilai material tadi, ia harus mampu menerangkan mengapa seorang Musa yang dibesarkan dalam dunia bangsawan-lah yang memimpin revolusi pembebasan orang Yahudi. Atau bagaimana ia menerangkan ketika Muhammad yang lahir dari bangsa terhormat Quraisy, klan Bani Hasyim, satu kaum yang turun temurun memiliki kehormatan untuk menjaga Ka’bah, hadir memperjuangkan hak Mustadh’afin. Atau bagaimanakah Marx dan pengikutnya menerangkan, mengapa seorang Gandhi dan Khomeini, ketika mati hanya meninggalkan selembar pakaian, pondok kecil, dan sebuah puisi. Sepertinya materi dan materialitas hanyalah sesuatu yang menyesakkan dada dan mengganggu revolusi besar mereka.

Lalu jenis revolusi apakah yang memotivasi orang-orang besar itu untuk memperjuangkan sebuah nilai dalam peradaban manusia? Apakah ia dilandasi keinginan material dan kekuasaan sebagaimana Nietzsche pernah dengungkan? Ataukah satu keinginan yang lebih besar dari material, yaitu ketika mereka memiliki kewajiban menyampaikan kebenaran sesungguhnya dalam sebuah revolusi? Bukan revolusi ledakan keinginan materi yang saling mempertentangkan, melainkan sebuah revolusi kesadaran. Kesadaran, bahwa kita suatu ketika akan kembali kepadaNya.

Oleh : Andi Hakim



Read More......

KENABIAN (2)

Siapakah Muhammad Saaw ?

Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diperjelas sudut pandang kita dalam melihat pribadi Nabi Muhammad saaw. Dari sisi mana kita memandang beliau. Karena tanpa itu kita akan terjebak pada pandangan yang dingin terhadap beliau. Pandangan yang tanpa muatan pensucian (taqdis) dan penghormatan (tasyrif). Bahkan terkadang memandangnya hanya sebagai satu sosok manusia yang bernyawa, makan, minum, nikah dan akhirnya mati, titik....

Lalu bagaimana seharusnya kita memandang pribadi Rasulullah saaw ? Memang Rasulullah saaw adalah seorang manusia sebagaimana saudara-saudaranya dari keturunan Adam. Akan tetapi bukankah justru kemanusiaan seorang manusia tidak dilihat dari unsur jasmaninya (fisik) ? Karena melihat manusia dari sisi jasmaninya, tidak lebih dari binatang yang juga bernyawa, makan, minum, nikah dan mati.

Dengan demikian kita harus melihat manusia dari sisi ruhani atau spiritualnya. Karena dari sisi inilah, manusia lebih mulia dari binatang. Dalam hal ini derajat manusia berbeda-beda.

Jika manusia dipandang dari sisi jasmaninya saja, kita tidak boleh membedakan seorang manusia dari manusia lain atau satu golongan manusia dari golongan lainnya, sebab manusia secara substansial adalah sama. Perbedaan fisik yang ada, sifatnya hanya eksidental, seperti warna kulit, ras, etnis dan lain-lain.

Tidak demikian halnya bila dipandang dari sisi ruhani, manusia mempunyai perbedaan dan tingkatan-tingkatan kemuliaan.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai manusia, Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian, adalah yang paling taqwa.” (QS. Al-Hujurat : 13).

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan di antara kalian beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah : 11).

Ayat pertama ingin menekankan, bahwa perbedaan jenis kelamin, warna kulit dan bangsa merupakan pertanda kebesaran Allah Ta’ala dan jangan dijadikan sebagai penyebab yang satu lebih mulia dari yang lain. Karena kemuliaan hanya dilihat dari ketaqwaan yang merupakan ciri spiritualitas seseorang dan bukan dilihat dari ciri-ciri fisikal.

Demikian pula ayat kedua menjelaskan, bahwa ketinggian derajat manusia diukur dari iman dan ilmu. Keduanya merupakan bagian dari unsur ruhani.

Jadi andaikan saja kita tidak boleh melihat dan membedakan manusia dari unsur jasmani, maka alangkah naifnya jika kita melihat Rasulullah saaw dari sisi jasmani.

Kita harus melihat Nabi dari sisi ruhani, sehingga akan jelas siapa sebenarnya beliau. Apakah beliau seperti manusia lainnya ?

Kemudian apakah pantas kita mengatakan, bahwa Muhammad saaw sama dengan kita, hanya karena beliau adalah manusia ?

Apabila kita bermaksud membicarakan pribadi Rasulullah saaw, maka harus kita jauhkan unsur jasmaninya. Sebab jika tidak, berarti kita membicarakan maaf-maaf unsur kebinatangannya. Sehingga dengan menjauhkan unsur jasmaninya, kita dapat mendudukkan beliau pada proporsi yang sesuai dengan ketinggian ruhaninya.

Memang kita yakini, bahwa dari sisi jasmaninya pun beliau mempunyai banyak kelebihan dan itu merupakan percikan sekian persennya saja dari kemuliaan ruhaninya yang sangat agung.

Nabi Muhammad saaw dalam pandangan Allah Ta’ala

Lantaran keterbatasan dan kerendahan spiritual kita (manusia selain Rasulullah), maka sulit bagi kita untuk mengetahui siapakah sebenarnya Nabi Muhammad saaw itu ?

Benar adanya apa yang dikatakan Imam al-Bushiri dalam salah satu bait syair pujian beliau terhadap Rasulullah, yang termuat dalam kitab al-Burdah. Beliau berujar :

“Sungguh,

keutamaan Rasulullah

tiada dibatasi

dengan batas

yang dapat diungkap

mulut manusia.”

Yang paling layak dan benar melihat dan menilai Rasulullah saaw, adalah yang menciptakan beliau sendiri, yaitu Allah Ta’ala.

Marilah kita lihat bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memandang Rasulullah saaw.

1. Dalam banyak ayat Al-Qur’an diterangkan, bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan utusan Allah. Ini merupakan suatu kemuliaan yang tidak sembarangan orang dapat menggapainya.

Kenabian adalah kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Hanya manusia-manusia tertentu yang meraihnya. Dengan kedudukan ini, beliau dapat berkomunikasi langsung dengan Allah. Bahkan lebih dari itu, beliau telah mengalami perjalanan spiritual dan fisik yang tidak pernah dialami seorang pun manusia sebelum dan sesudahnya, yaitu Isra dan Mi’raj.

Saya kira dengan pengangkatan Muhammad saaw sebagai Nabi dan Rasul, cukup menjadi bukti bahwa beliau benar-benar mulia dan patut dimuliakan dan diagungkan, serta tidak bisa disetarakan dengan manusia lainnya.

Begitu tingginya kedudukan beliau, sampai-sampai Allah menyertakan ketaatan kepada Nabi dengan ketaatan kepadaNya dan mengikuti Nabi adalah syarat kecintaan kepada-Nya (Lihat Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 31).

Setelah itu apakah kita pantas mengatakan bahwa Nabi sama dengan kita, hanya karena beliau seorang manusia ?

2. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21, Allah Ta’ala berfirman :

“Sungguh bagi kalian pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik, bagi orang yang mengharapkan (ridha) Allah dan hari akhirat, serta banyak berzikir.”

3. Dalam Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 4, Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yang agung.”

4. Dalam surat At-Taubah ayat 128, Allah berfirman :

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari (jenis) kalian. Berat terasa olehnya penderitaan kalian, yang sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian. Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

5. Dalam surat Al-Insyirah ayat 4, Allah berfirman :

“Dan Kami tinggikan sebutanmu (Muhammad saaw).”

Demikian pula masih banyak ayat-ayat lainnya yang mengungkapkan keagungan Rasulullah saaw, yang tidak mungkin dicantumkan semua dalam lembaran yang sangat terbatas ini.

Ungkapan-ungkapan di atas dan yang sejenisnya dalam Al-Qur’an keluar dari perkataan Sang Pencipta seluruh alam semesta. Sudah jelas semua itu bukan sekedar basa-basi yang acapkali dilakukan oleh manusia ketika memuji yang lain. Karena Allah sama sekali tidak berkepentingan untuk menyanjung, dengan sanjungan yang sifatnya basa-basi atau mencari muka.

Seluruh ungkapan di atas benar-benar menjelaskan fakta yang sesungguhnya, bahwa Nabi Muhammad saaw sebagai suri tauladan untuk umat manusia. Beliau adalah seorang yang berakhlak agung dan luhur, dan beliau adalah seorang yang sangat penyayang dan pengasih (terhadap umatnya). Adakah pujian dan sanjungan yang lebih tulus dan lebih benar, dari pujian dan sanjungan-Nya ?

Kalau saja Allah sedemikian tinggi memuji Rasulullah saaw, lantas apakah kita diam tidak mengikuti sunnatullah, karena alasan khawatir terjerembab ke dalam pengkultusan individu ?

Nabi Muhammad saaw menurut Hadis

Ketinggian dan kebesaran Nabi Muhammad saaw banyak dikutip dalam berbagai kitab Hadis. Kajian tentangnya, membutuhkan tulisan yang khusus dan luas.

Mengenai keagungan dan kebesaran Nabi Muhammad saaw dapat kita lihat dalam kitab-kitab Hadis dan sejarah beliau. Dalam lembaran yang sangat terbatas ini, hanya akan dikutip sebagian kecil saja dari Hadis-Hadis yang menceritakan ketinggian dan kebesaran beliau, antara lain :

1. Abu Abdillah Ja’far as Shadiq as. berkata, “Suatu malam Rasulullah saaw berada di rumah Ummu Salamah ra., salah seorang isteri beliau. Beliau mendatangi isterinya tersebut di tempat tidurnya. Kemudian beliau melakukan hubungan dengannya sebagaimana layaknya beliau lakukan pada isteri-isteri lainnya.

Setelah itu, Ummu Salamah mencari-cari beliau di sekitar rumahnya, sampai ia menjumpai beliau di sudut kamarnya dalam keadaan berdiri dan mengangkat kedua tangannya sambil menangis dan berucap,

Ya Allah, janganlah Engkau renggut kebaikan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku selama-lamanya.

Ya Allah, janganlah Engkau hibur daku dengan seorang musuh dan janganlah pula dengan seorang yang dengki selamanya.

Janganlah Engkau kembalikan daku kepada kejelekan, yang telah Engkau selamatkan daku darinya selama-lamanya.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan daku berserah diri kepada diriku sendiri, walau sekejap pun untuk selama-lamanya.

Kemudian Ummu Salamah berpaling sambil menangis, hingga Rasulullah pun berpaling, lantaran mendengar tangisan isterinya tersebut. Lalu beliau bertanya kepadanya, “Gerangan apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Ummu Salamah ?”

Seraya ia menjawab, “Demi ayah dan ibuku, bagaimana aku tidak menangis, sementara Tuan dengan kedudukan yang telah Allah berikan kepada tuan sekarang, yang mana Allah telah menjamin Tuan dengan ampunan atas dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang akan datang masih memohon kepada-Nya, agar Dia tidak mengembalikan Tuan ke dalam kejelekan yang Tuan telah diselamatkan-Nya darinya untuk selama-lamanya, agar Dia tidak mengambil kembali kebaikan yang telah dianugerahkan kepada Tuan selama-lamanya, dan agar tidak menjadikan Tuan berpasrah diri kepada diri Tuan sendiri walau sekejap pun, untuk selama-lamanya ?”

Rasulullah saaw balik bertanya, “Wahai Ummu Salamah, apa yang dapat menjadikan aku aman (dari azab Tuhan) ? Sungguh, Yunus bin Mata telah berserah diri kepada dirinya sendiri untuk sekejap mata, maka terjadilah apa yang pantas terjadi pada dirinya ?”

1. Al-Husein bin Ali, ketika menjelaskan tentang kekhusyuan Rasulullah saaw dalam shalatnya, beliau berkata, “Rasulullah saaw menangis hingga air matanya membasahi tempat shalatnya. Tidak syak lagi hal itu disebabkan rasa takut beliau kepada Allah swt.

Nabi Muhammad Saaw menurut pandangan Imam Ali bin Abi Thalib as.

Sengaja kami kutip komentar Imam Ali as. mengenai Rasulullah saaw, karena Ali adalah seorang sahabat yang paling dekat dengan beliau dan paling kenal kepada beliau.

Imam Ali bin Abi Thalib as. ketika menerangkan pribadi Rasulullah saaw berkata :

“Ikutilah Nabimu yang paling baik dan paling suci, karena pada dirinya terdapat suri tauladan bagi yang meneladaninya dan tempat berduka yang paling duka. Hamba yang paling Allah cintai adalah orang yang meneladani Nabi-Nya dan mengikuti jejaknya.”

Dia telah melepaskan dunia dan tidak memperdulikannya. Dia adalah penghuni dunia yang paling kurus dan paling sering lapar. Telah ditawarkan padanya dunia, namun dia enggan menerimanya. Dia mengetahui bahwa Allah tidak menyukai sesuatu, maka diapun tidak menyukainya. Allah meremehkan sesuatu, maka diapun meremehkannya dan jika Allah menganggap kecil sesuatu, maka diapun menganggapnya kecil.

Sekiranya yang kita cintai adalah sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya murkai, dan yang kita besarkan adalah sesuatu yang oleh Allah dan Rasul-Nya kecilkan, maka itu cukup menjadi bukti penolakan dan penentangan kita terhadap perintah Allah.

Rasulullah saaw adalah orang yang makan di atas tanah, yang duduk laksana duduknya seorang budak, yang menambal sandalnya dengan tangannya sendiri, yang menjahit bajunya dengan tangannya sendiri, yang mengendarai keledai yang tak berpelana dan yang membawa tumpangan di belakangnya.

Pernah suatu hari di atas pintu rumahnya dipasang tabir yang bergambar. Lalu beliau berkata kepada salah seorang isterinya, ”Wahai Fulanah, hilangkan tabir itu dariku, karena aku jika melihatnya, maka aku akan ingat dunia dan segala keindahannya.’’

Dia berpaling dari dunia dengan hatinya, mematikan ingatan kepada dunia dari dalam jiwanya dan menyukai hilangnya hiasan dunia dari pandangannya, agar dia tidak menjadikan perhiasan darinya, menganggapnya kekal dan mengharapkan kesempatan darinya. Maka dia keluarkan (cinta) akan dunia dari jiwanya, dia enyahkan hal itu dari hatinya, serta dia hilangkan semua itu dari perhatiannya.

Kesimpulan

Setelah kita melihat bagaimana tinggi dan agungnya pribadi Rasulullah saaw dari sisi ruhaninya, lantas apakah hati kita tidak tergerak untuk menyatakan kekaguman dan keterpesonaan terhadap beliau, dengan memuji dan menyanjungnya ?

Sungguh telah banyak orang yang terpesona dengan keindahan akhlak beliau dan berdecak kagum dengan kepribadian beliau sepanjang sejarah umat manusia. Kekaguman itu mereka ungkapkan dalam puisi-puisi, pembacaan-pembacaan maulud dan manaqib Rasulullah saaw.

Merekalah yang benar-benar memahami arti sebuah kebesaran dan keindahan. Entahlah kita, apakah termasuk dari mereka atau termasuk dari orang yang enggan karena malu, atau karena hati yang keras, sehingga tidak mengenal arti keindahan dan kebesaran pribadi beliau, serta menganggap bahwa memuji dan menyanjung beliau sebagai pengkultusan individu ?

Read More......

KENABIAN (1)

Apa Tujuan Hidup Manusia ?

Dalam Pandangan Dunia Tauhid (Jahan Bini-e Tauhid), alam raya ini ada tidak dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dengan tujuan-tujuan tertentu. Tidak mungkin alam diciptakan tanpa tujuan, karena penciptaan alam termasuk dari perbuatan-Nya yang tidak mungkin sia-sia.

Lantas apa tujuan penciptaan alam raya ini ?

Para filosof Ilahiyyin dan mutakallimin mengatakan, bahwa segala yang ada di alam raya tabiat ini bergerak sesuai dengan status dan posisi tabi’i-nya (alaminya) menuju kesempurnaannya masing-masing. Tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan benda-benda yang secara lahiriah tampak mati, bergerak secara alami dan sesuai dengan kapasitas wujudnya menuju kesempurnaan wujudnya masing-masing, tidak kurang dan tidak lebih. (QS. Al-Qamar ayat 49). Pergerakan mereka menuju kesempurnaan merupakan bukti ketaatan mereka kepada Sang Pencipta.

Sebagian mufasir menafsirkan tasbih dan sujudnya segala yang ada di alam raya ini dengan pergerakan mereka menuju kesempurnaan. Dalam hal ini manusia tidak berbeda dengan makhluk lainnya, artinya sama-sama bergerak. Akan tetapi karena manusia adalah makhluk yang berikhtiar, maka titik gerakan yang ditujunya tergantung pada pilihan mereka. Terkadang mereka menuju kesempurnaan dan terkadang menuju kehancuran.

Akhir dari kesempurnaan adalah Allah Ta’ala sebagai Kesempurnaan yang mutlak. Untuk itulah manusia diciptakan. Sedangkan kehancuran, adalah segala tujuan selain Kesempurnaan yang mutlak.

Ketika seseorang bergerak menuju kesempurnaan, manfaat pergerakannya itu dirasakan oleh dirinya dan alam sekitarnya. Bagaikan minyak kesturi yang wangi semerbak, selain dirinya wangi juga menebarkan wewangiannya kepada sekitarnya.

Tentang hal di atas, Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, Sungguh shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat Al-An’am ayat 162).

Demikian pula Allah berfirman, “Dan sekiranya penghuni kampung beriman dan bertaqwa, niscaya Kami bukakan untuk mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf 96)

Demikian halnya, orang yang bergerak menuju kehancuran, disamping dirinya hancur dia juga menghancurkan sekitarnya. Allah berfirman, “Dan jika dia berpaling, maka dia berusaha untuk membuat kehancuran di dalamnya dan membinasakan tanaman dan keturunan.” (QS. Al-Baqarah ayat 205).

Bahkan mereka juga berusaha membendung dan menghalangi golongan pertama, seperti Allah lukiskan dalam Al-Qur’an, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, namun Allah tidak menghendakinya melainkan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Al-Anfal ayat 32).

Selama perjalanan sejarah umat manusia, sejak dari Habil dan Kabil hingga hari akhir dunia, senantiasa terdapat orang-orang yang bergerak menuju kesempurnaan dan yang bergerak menuju kehancuran. Kedua kelompok ini saling berseberangan dan tarik menarik. Pada gilirannya kedua kelompok ini memiliki pengikut dan musuh.

Syahid Muthahhari dalam buku Jadzibeh wa Dafieh-e Ali menyebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib as. adalah orang yang mempunyai kawan dan lawan, dan ini adalah ciri seorang mukmin. Dia dicintai para kekasih Allah dan dibenci musuh-musuh-Nya.

Jadi tujuan penciptaan manusia adalah kesempurnaan (Allah), sebagaimana ucapan sang kekasih Allah, Ibrahim as. yang direkam Al-Qur’an, “Berkata (Ibrahim as) : Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku yang akan membimbingku.” (Surat As-shafat ayat 99).

Bagaimana manusia sampai kepada Kesempurnaan Ilahi ? Untuk sampai kepada tujuan yang Allah inginkan dari seluruh makhluk-Nya, maka dengan luthf-Nya (karunia dari Allah yang dengannya manusia dekat dengan-Nya) Allah memberikan bimbingan kepada segala ciptaan-Nya. Sebagaimana Allah firmankan, “Tuhan Kami yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha ayat 50).

Memberi bimbingan kepada semua makhluk-Nya disamping luthf, itu merupakan bagian dari konsekuensi logis (lazim aqli) wujud-Nya yang Sempurna dan Mutlak. Dia sendiri telah menetapkan atas diri-Nya untuk melakukan hal itu (QS. Al-An’am ayat 12 dan ayat 54).

Demikian pula manusia yang tujuan (penciptaannya) amat agung telah diberi bimbingan oleh Allah, karena tanpa bimbingan-Nya tidak mungkin ia sampai kepada tujuan yang Allah inginkan darinya.

Lebih dari itu manusia berbeda dengan makhluk lainnya dalam pergerakan dirinya menuju kesempurnaan, ia dihadapkan kepada musuh hebat yang senantiasa akan merintangi dan menghalangi manusia untuk sampai kepada kesempurnaan. Musuh tersebut berupa hawa nafsu, setan dan manusia-manusia yang telah menjadi budak keduanya. Oleh karena itu manusia dibimbing dengan dua macam bimbingan, yaitu bimbingan batiniah dan bimbingan lahiriah.

Hal itu merupakan kelebihan manusia dari makhluk lainnya, sehingga seorang manusia yang dengan konsisten mengikuti kedua macam bimbingan tersebut benar-benar menjadi khalifah Allah di muka bumi ini, serta disediakan untuknya sorga di akhirat kelak.

Bimbingan batiniah berupa akal, sedangkan bimbingan lahiriah berupa para Nabi dan Washi (penerus) mereka. Imam Musa al-Kadzim as. berkata, “Sesungguhnya Allah mempunyai dua hujjah atas manusia, hujjah lahiriah dan hujjah batiniah. Hujjah lahiriah adalah para Rasul dan Imam, sedangkan hujjah batiniah adalah akal.”

Keduanya sama penting sehingga tidak mungkin seseorang sampai kepada kesempurnaan hanya dengan salah satunya.

Bimbingan para Nabi laksana jalan yang mengantarkan seseorang kepada kesempurnaan, sedangkan akal laksana lampu yang menerangi jalannya. Berjalan tanpa ada jalan yang akan dilalui, tidak mungkin sampai ke tujuan. Demikian pula, berjalan tanpa cahaya akan menabrak ke sana ke mari.

Keduanya selalu berjalan seiring dan tidak akan pernah bertolak belakang. Banyak keterangan dari agama tentang akal dan peranannya (hal ini perlu kajian tersendiri).

Akal senantiasa menunjukkan dan mengajak kepada kebenaran serta cenderung mendorong (manusia) untuk melakukan kebaikan.

Meskipun demikian tidak cukup seseorang mengandalkan akalnya saja. Dia membutuhkan bimbingan para Nabi agar tidak keliru dalam menjalankan praktek-praktek pendekatan diri kepada kesempurnaan Ilahi.

Para Nabi dan Rasul adalah Para Pembimbing Ilahi

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa manusia walaupun dibekali akal, dia tetap membutuhkan (bimbingan) para Nabi. Mereka memang diutus oleh Allah untuk mengantarkan manusia kepada-Nya, “Katakanlah, Inilah jalanku. Aku mengajak kepada Allah atas dasar bashirah (matahari atau akal). Aku dan orang yang mengikutiku.” (QS. Yusuf 108).

Kehadiran Nabi dan Rasul sangatlah dibutuhkan oleh umat manusia, karena banyak di antara mereka yang tidak dapat menghidupkan dan mengaktifkan akalnya disebabkan tertutup oleh hawa nafsu dan bujukan setan. Para Nabi diutus untuk menggali kembali khazanah-khazanah akal yang terpendam di kedalaman jiwa manusia.

Imam Ali bin Abi Thalib as. dengan sangat indah menjelaskan filsafat pengutusan para Nabi, “Allah mengutus di tengah-tengah mereka rasul-rasul-Nya dan mengirim kepada mereka nabi-nabi-Nya, untuk meminta pertanggung jawaban perjanjian fitrah-Nya, mengingatkan mereka atas nikmat-Nya yang terlupakan, menuntut mereka dengan tabligh, menggali untuk mereka khazanah-khazanah akal dan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan-Nya.” (Nahjul Balaghah, khutbah nomor 1).

Selain itu para Nabi dibutuhkan pula oleh mereka yang telah mengaktifkan akal sehingga mengenal Sang Pencipta tanpa bimbingan para Nabi, karena para Nabi selain mengajarkan Tauhid, juga mengajarkan ubudiyyah yang benar. Jadi kehadiran para Nabi sangat dibutuhkan oleh seluruh umat manusia.

Karena itulah Allah tidak mempunyai alasan untuk membinasakan suatu kaum, kecuali setelah diutus kepada mereka seorang Nabi, “Dan tidaklah pantas bagi Kami membinasakan (suatu kaum) kecuali (setelah) Kami utus seorang Rasul.” (QS. Al-Isra ayat 15).

Perjalanan menuju Allah tidak akan pernah berakhir, karena Dia adalah Dzat yang Tidak Terbatas, selain banyak pula duri-duri yang harus dihindari. Maka satu-satunya cara yang paling dijamin untuk sampai dengan selamat, adalah bergabung dengan kafilah orang-orang yang suci dan terjamin.

Mereka adalah pilihan-pilihan Allah, yang sebelum mengajak umat manusia untuk mereguk air cinta yang suci, menyaksikan kebesaran-Nya serta merasakan lezat dan nikmatnya munajat dan liqa (perjumpaan) dengan-Nya, mereka telah menggapai semua itu.

Tidak perlu heran jika ajakan dan ajaran para Nabi atau orang-orang yang mengikuti mereka dengan konsisten, lebih menyentuh dan merasuk ke dalam kalbu dari pada ajakan dan ajaran orang-orang yang belum sampai kepada kesempurnaan (Allah).

Para Nabi menyerukan kepada sesuatu yang sudah mereka rasakan, sementara kebanyakan orang mengajak kepada sesuatu yang belum mereka rasakan (wa syattana maa bainahuma).

Para Nabi siap mengorbankan segalanya demi menyampaikan kebenaran dan menegakkan keadilan, lantaran mereka cinta kepada kebenaran dan keadilan, serta sangat penyayang kepada umat manusia.

Hal itu Allah lukiskan dalam ayat berikut, “Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian, yang sangat berat (terasa) baginya penderitaan kalian, yang sangat berharap dari kalian (untuk beriman) dan sangat sayang serta belas kasih terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal : 128).

Para Nabi adalah khalifah-khalifah (wakil-wakil) Allah dan penghubung antara Allah dengan umat manusia. Karena itu barang siapa mencintai mereka berarti mencintai Allah dan barang siapa menaati mereka berarti menaati Allah.

Sangat tidak logis jika seseorang mengaku mencintai Allah tetapi tidak mencintai para Nabi. Karena jika dia benar-benar mencintai Allah, maka konsekuensinya dia akan mencintai para kekasih-Nya.

Adakah di antara umat manusia yang lebih dicintai oleh Allah dari pada para Nabi ?

Read More......

Akal dan Konsep Ketuhanan


Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya fitrah mereka redup atau bahkan padam...

Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para ahli ma’rifat berkata, ”Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli Hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al-Qur’an dan Hadis). Mereka beralasan dengan adanya sejumlah ayat dan riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al-Qur’an dan Hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi (burhan) aqli. Pada tulisan berikutnya, insya Allah akan kita bicarakan tentang Al-Qur’an, Hadis dan konsep ketuhanan.

Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal ?

Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktikan dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktikan dengan akal dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal.

Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja adalah anggapan sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima keterangan Al-Qur’an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber Al-Qur’an itu sendiri Al-Qur’an, yaitu Allah Ta’ala.

Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al-Qur’an lantaran ia adalah kalamullah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal ini berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum menerima keterangan Al-Qur’an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah ?

Mereka menjawab, “Karena Al-Qur’an mengatakan demikian.” Maka terjadilah daur (Lingkaran setan ?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, Al-Qur’an dijadikan sebagai pendukung dan penguat dalil aqli.

Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terkadang melalui pendekatan kalami (teologis) atau pendekatan filosofi.

Pada kesempatan ini, insya Allah kami mencoba menjelaskan keduanya secara sederhana dan ringkas.

Burhan-burhan Aqli-kalami tentang keniscayaan wujud Allah Ta’ala

1. Burhan Nidham (keteraturan)

Burhan ini dibangun atas beberapa muqadimah (premis). Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati.

Kedua, bahwa alam bendawi (tabiat) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setiap benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan hukum alam.

Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas (illiyyah), artinya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab (illat) dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, seluruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab akibat, adalah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa atau illatul ilal).

Keempat, “sebab” atau illat yang mengadakan seluruh alam raya ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu “sebab” yang berupa benda mati atau sesuatu yang hidup.

Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut : Pertama, alam raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa “sebab” yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Benda mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu.

Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacam-macam, diantaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang paling menonjol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah menusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati ?.

Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai ‘’sebab’’ atau ‘illat, dan ‘’sebab’’ tersebut adalah sesuatu yang hidup. Kaum muslimin menamai ‘’sebab’’ segala sesuatu itu dengan sebutan Allah Ta’ala.

2. Burhan al-Huduts (kebaruan)

al-Huduts atau al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah tidak ada kemudian ada. Burhan ini terdiri atas beberapa hal :

Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi.

Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena ‘’sebab’’ sesuatu.

Ketiga, yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal dan abadi. Karena, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada karena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada ‘sesuatu’ yang keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Kaum muslimin menamakan ‘sesuatu’ itu dengan sebutan Allah Ta’ala.

Burhan-burhan Aqli-filosofi tentang keniscayaan wujud Allah Ta’ala.

A. Burhan Imkan

  1. Sebelum menguraikan burhan ini, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas terlebih dahulu Wajib, yaitu sesuatu yang wujudnya pasti, dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang lain.
  2. Imkan atau mumkin, sesuatu yang wujud (ada) dan ‘adam (tiada) baginya sama saja (tasawiy an-nisbah ila al-wujud wa al-‘adam). Artinya, sesuatu yang ketika ‘ada’ disebabkan faktor eksternal, atau keberadaannya tidak dengan sendirinya. Demikian pula, ketika ‘tidak ada’ disebabkan oleh faktor eksternal pula, atau ketiadaannya juga tidak dengan sendirinya. Dia tidak membias kepada wujud dan kepada ketiadaan. Menurut para filosof, hal ini merupakan ciri khas dari mahiyah (esensi).
  3. Mumtani atau mustahil, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin terjadi, seperti sesuatu itu ada dan tiada pada saat dan tempat yang bersamaan (ijtima’un-naqidhain).
  4. Daur (siklus atau lingkaran setan) Misal, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, sedangkan B keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian pula B tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Dengan demikian, A tidak akan ada tanpa B dan pada saat yang sama A harus ada karena dibutuhkan B. Ini berarti ijtima’un naqidhain (lihat Mumtani’). Contoh lainnya, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, dan B keberadaannya tergantung/membutuhkan C, sedangkan C keberadaannya tergantung/ membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian juga B tidak mungkin ada tanpa keberadaan C terlebih dahulu, demikian juga C tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Daur adalah suatu yang mustahil adanya.
  5. Tasalsul, yaitu susunan sejumlah ‘illat dan ma’lul, dengan pengertian bahwa yang terdahulu menjadi ‘illat bagi yang kemudian, dan seterusnya tanpa berujung. Tasalsul sama dengan daur, mustahil adanya.

Burhan Imkan dapat dijelaskan dengan beberapa poin sebagai berikut ini:

Pertama, bahwa seluruh yang ada tidak lepas dari dua posisi wujud, yaitu wajib atau mumkin.

Kedua, wujud yang wajib ada dengan sendirinya dan wujud yang mumkin pasti membutuhkan atau berakhir kepada wujud yang wajib, secara langsung atau lewat perantara. Kalau tidak membutuhkan kepada yang wajib, maka akan terjadi daur (siklus) atau tasalsul (rentetan mata rantai yang tidak berujung) dan keduanya mustahil.

Ketiga, bahwa yang mumkin berakhir kepada yang wajib. Dengan demikian, yang wajib adalah ‘sebab’ dari segala wujud yang mumkin (prima kausa atau ‘illatul ‘ilal). Kaum muslimin menamakan wujud yang wajib dengan sebutan Allah Ta’ala.

B. Burhan Ash-Shiddiqin
Burhan ini menurut para filosuf muslim, merupakan terjemahan dari ungkapan Imam Ali yang berbunyi, “Wahai Dzat yang menunjukkan diri-Nya dengan diri-Nya.” (Doa Shahabah Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as.) Artinya, Burhan ini ingin menjelaskan pembuktian wujud Allah melalui wujud diri-Nya sendiri. Para ahlui mantiq (logika) menyebutnya dengan burhan Limmi. Penjelasan burhan ini, hampir sama dengan penjelasan burhan Imkan.
Ada beberapa penafsiran tentang burhan shiddiqin ini. Diantaranya penafsiran Mulla Shadra. Beliau mengatakan, “Dengan demikian, yang wujud terkadang tidak membutuhkan kepada yang lain (mustaghni) dan terkadang pula, secara substansial, ia membutuhkan kepada yang lain (muftaqir). Yang pertama, adalah wujud yang wajib, yaitu wujud murni. Tiada yang lebih sempurna dari-Nya dan dia tidak diliputi ketiadaan dan kekurangan. Sedangkan yang kedua, adalah selain wujud yang wajib, yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang tidak bisa tegak kecuali dengan-Nya (Nihayah al-Hikmah, hal. 269).
Allamah al-Hilli, dalam komentarnya terhadap kitab Tajrid al-‘Itiqad karya Syekh Thusi, menjelaskan, “Di luar kita secara pasti ada yang wujud. Jika yang wujud itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala), dan jika yang wujud itu mumkin, maka dia pasti membutuhkan faktor yang wujud (untuk keberadaannya). Jika faktor itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala). Tetapi jika faktor itu mumkin juga, maka dia membutuhkan faktor lain dan seterusnya (tasalsul) atau daur. Dan keduanya mustahil adanya

Read More......

Ijtihad dan Taqlid

Dalam terminologi yurisprudensi (hukum) Islam, kata Ijtihad dan Taqlid adalah dua kata yang tidak asing dan telah menjadi bahan pembahasan para fuqaha dan ushuliyyun sejak generasi terdahulu sampai sekarang.

Akhir-akhir ini bahasan tentang keduanya mulai marak kembali, khususnya ketika muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya sebagai pengikut Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saaw. Mereka acapkali disebut dengan mujaddidin (kaum pembaharu)....

Gerakan mujaddidin menolak segala bentuk taqlid, khususnya kepada para mujtahid yang telah wafat seperti Imam Abu Hanifah (80-150H), Imam Malik Bin Anas (93-179 H), Imam Syafi’i (150-198 H) dan Imam Ahmad Bin Hambal (164-241 H). Kehadiran mereka tidak dapat dipungkiri lagi, bahkan mengundang reaksi yang cukup keras dari kaum taqlidiyyin (para pengikut empat imam mujtahid tersebut).

Letak perbedaan kedua golongan ini, mujaddidin dan taqlidiyyin, sehubungan dengan masalah hukum Islam, adalah kaum mujaddidin berpendapat bahwa umat Islam hanya harus mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, dan tidak boleh mengikuti selain keduanya. Dengan demikian setiap muslim harus merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadis secara langsung, tidak diperbolehkan mengikuti (taqlid) kepada pendapat ulama.

Sementara kaum taqlidiyyin berpendapat, bahwa sah-sah saja seorang muslim mengikuti pendapat seorang ulama, khususnya para imam mazhab yang empat, karena pendapat mereka tidak lepas dari empat dasar hukum, Al-Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Apalagi mereka lebih dekat ke zaman kenabian dari pada umat Islam sekarang ini.

Lebih dari itu kaum taqlidiyyin membatasi ijtihad hanya kepada empat imam mazhab tersebut. Dengan pengertian, setelah keempat mujtahid tersebut tidak ada lagi mujtahid yang lain. Walaupun ada, maka itu hanya sebagai mujtahid fatwa bukan mujtahid mutlak, seperti Imam Nawawi di Mesir dan Imam Rafi’i di Suria.

Jadi satu pihak mewajibkan setiap muslim merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Sunnah, walaupun dengan seperangkat ilmu alat seadanya serta dengan latar belakang pendidikan yang berbeda.

Dengan kata lain, menurut pihak ini setiap muslim harus berijtihad (definisi ijtihad pada keterangan berikut) dan diharamkan taqlid. Sementara di pihak lain menutup pintu ijtihad rapat-rapat, sehingga tidak diperkenankan seseorang setelah empat imam mujtahid untuk berijtihad. Mereka harus mengikuti salah satu dari empat imam mujtahid tersebut.

Definisi Ijtihad

Sebelum mendiskusikan masalah ijtihad dan taqlid, terlebih dahulu perlu dijelaskan definisi ijtihad. Para ushuliyyun (pakar ushul fiqh) dan fuqaha dalam mendefinisikan ijtihad berkata, “Ijtihad adalah mencurahkan segenap upaya untuk mendapatkan hukum syari’at dari sumber aslinya.”

Ulama Ahlu Sunnah dan Syi’ah berpendapat, bahwa sumber hukum Islam yang utama adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Dan mereka beranggapan bahwa segala kasus yang dihadapi umat manusia pasti ada penyelesaiannya dalam Islam (Al-Qur’an dan Sunnah) baik secara langsung atau tidak dan kaum muslimin wajib merujuk dan mengikuti keduanya.

Yang menjadi masalah, apakah setiap orang muslim dapat memahami maksud Al-Qur’an dan Sunnah, atau lebih dari itu apakah setiap muslim mampu bahkan harus mengambil hukum langsung dari keduanya ?

Oleh karena masalah ijtihad adalah masalah bakat (malakah) yang ada pada seseorang, yang dengannya dia mampu menarik hukum (istinbath) dari sumber-sumbernya (Kitab Rasail, karya Imam Khumainy), maka tidak realistis kalau setiap muslim harus berijtihad. Karena setiap orang mempunyai bakat dan kecenderungan yang berbeda-beda.

Sangat tidak realistis seseorang yang sibuk dengan keahliannya dalam bidangnya seperti dokter, insinyur dan lainnya dituntut untuk berijtihad. Demikian pula seorang buruh yang bersusah payah membanting tulang untuk mencari nafkah seharian penuh, dituntut berijtihad.

Oleh karena itu, ijtihad tidak diharuskan atas setiap muslim. Akan tetapi, seseorang yang mempunyai bakat dan kemampuan karena penguasaannya terhadap beberapa disiplin ilmu, wajib berijtihad dan tidak boleh taqlid.

Jadi, ijtihad tidak harus dilaksanakan oleh setiap muslim dan juga tidak terbatas pada beberapa orang saja. Ijtihad dapat dilakukan oleh setiap orang yang berbakat dan mempunyai kemampuan. Persepsi ini, barangkali bisa menjadi jembatan dan penengah antara kaum mujaddidin dan kaum taqlidiyyin.

Memang, untuk menjadi mujtahid tidaklah mudah. Ayatullah Muthahhari, seorang mujtahid juga filosof menyebutkan beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mujtahid, antara lain :

1. Bahasa Arab

Mencakup nahwu, sharaf, ma’ani, bayan dan badi. Karena sumber rujukan hukum Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang berbahasa Arab. Tanpa menguasai bahasa Arab dengan baik, seseorang sulit untuk memahami keduanya dengan baik.

2. Tafsir Al-Qur’an

3. Ilmu Manthiq atau logika

Ilmu ini membahas tentang bagaimana cara berpikir logis dan berargumentasi yang tepat. Oleh karenanya, seorang mujtahid harus menguasainya agar dia dalam menginterpretasikan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan argumentasi yang tepat dan logis.

4. Ilmu Hadist

Seorang mujtahid harus menguasai benar hadis, asbabul wurud (konteksnya), pembagian-pembagiannya dan macam-macamnya.

5. Ilmu Rijal

Yaitu ilmu tentang perawi hadis. Seorang mujtahid harus mengetahui tentang biografi setiap perawi hadis sebelum mengkaji tentang matan hadis. Karena pengetahuan tentang ilmu ini akan menentukan kedudukan hadis dan akan mempengaruhi validitas hukum yang dikeluarkan oleh seorang mujtahid dari suatu hadis.

5. Ilmu Ushul Fiqih

Ilmu yang membahas tentang cara mengintrepretasikan hukum (dustur istinbath). Ilmu ini menggunakan peranan dari setiap disiplin ilmu yang dibutuhkan dalam istinbath (kitab al-Halaqat, karya Ayatullah Muhammad Baqir Shadr).

Banyak bahasan yang tercakup dalam ilmu ini, misalnya apakah setiap kata kerja perintah (fi’il amr) mengandung arti wajib (al-wujub) atau tidak ? kalau tidak mengapa dan kapan ? atau misalnya bahasan tentang hujiyyah dhawahir yang ringkasnya apakah pemahaman secara lahiriah seorang mujtahid tentang sebuah ayat atau hadis itu (berstatus) hujjah atau tidak dan bahasan lainnya.

Enam disiplin ilmu tersebut dapat dikuasai oleh siapa saja, sehingga tidak ada pembatasan jumlah mujtahid, tapi pada waktu yang sama keharusan menguasai enam disiplin ilmu tersebut membatasi orang-orang agar tidak menganggap enteng berijtihad (merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Sunnah) hanya dengan bermodalkan bahasa Arab yang ala kadarnya atau tanggung, apalagi hanya mengandalkan terjemahan belaka.

Bolehkah bertaqlid ?

Taqlid adalah beramal atas dasar fatwa seorang faqih / mujtahid (Lihat kitab Tahrir al-Wasilah, karya Imam Khumainy).

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap muslim harus merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, meskipun tidak semua orang muslim mampu merujuk kepada keduanya secara langsung (berijtihad) karena enam persyaratan tersebut, maka bagi yang tidak mampu diperkenankan bertaqlid.

Kata-kata taqlid bagi sementara kaum muslimin adalah kata yang berkonotasi negatif. Bahkan sebagian ada yang mengharamkannya. Padahal masalah taqlid adalah sesuatu yang lumrah, wajar dan logis terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Kehidupan sosial umat manusia tegak atas dasar taqlid, karena taqlid tidak lain dari perbuatan seseorang yang tidak tahu merujuk kepada yang tahu dalam segala urusan. Misalnya seorang yang sakit merujuk kepada Dokter sebagai ahli kesehatan, seorang ulama meminta bantuan seorang insinyur ketika hendak membangun masjid dan pesantren dan sebagainya.

Setiap orang yang tidak tahu dalam satu masalah atau urusan pasti merujuk kepada yang ahli dalam masalah dan urusan tersebut. Itulah yang dinamakan taqlid. Dalam hal ini tidak ada yang menganggap taqlid itu tidak baik.

Demikian halnya dalam masalah syariat atau hukum (baca, fiqih), tidak semua orang mampu mengambilnya langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah, karena pengambilan langsung dari keduanya bukan sesuatu yang mudah, akan tetapi perlu ada spesialisasi. Nah, orang yang awam tentang syariat, baik itu pedagang, petani, kaum intelek dan lainnya yang tidak membidangi syariat secara khusus, mau tidak mau mereka harus merujuk kepada orang yang ahli dalam masalah syariat. Alasan ini dalam istilah para ushuliyyun dan fuqaha disebut al-uruf al-uqala’i.

Disamping itu ada beberapa ayat yang oleh sebagian ulama dijadikan dalil tentang diperbolehkannya taqlid dalam urusan syari’at, antara lain :

1. Surat At-Taubah ayat 122

“Tidak sepatutnya bagi semua orang mukmin pergi (berjihad). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk tafaqquh (belajar secara mendalam) dalam urusan agama. Dan (setelah itu) mereka hendaknya memberi peringatan kepada kaumnya kalau kembali kepada mereka, agar mereka dapat menjaga diri mereka.”

Ayat ini secara implisit menyatakan, bahwa kewajiban orang yang tidak bertafaqquh untuk mengikuti dan menerima keterangan orang-orang yang bertafaqquh.

2.Surat Al-Anbiya ayat 70

“Maka bertanyalah kepada ahli dzikir, jika kalian tidak mengetahui.”

Ayat ini mengandung arti yang umum, karena ahli dzikir dapat diartikan sebagai ahli kitab, jika yang menjadi mukhatab (obyek) adalah kaum musyrikin dan juga dapat diartikan sebagai para imam atau ulama (ketika tidak ada imam) kalau yang menjadi mukhatab adalah umat Islam. Berdasarkan pengertian kedua, ketika Allah menyuruh umat Islam bertanya kepada para imam dan ulama, berarti mereka harus menerima jawaban yang diberikan oleh mereka.

Kesimpulan

Dalam mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, secara garis besar terdapat dua cara, pertama ijtihad dan kedua taqlid. Keduanya dibenarkan dan berlaku untuk seluruh kaum muslimin.

Read More......