Mau liat Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bandung dari langit???
Disampingnya juga ada JLCC dan warung Mang Agus.
Penasaran khan???
liat aja, klik disini!
15 April 2008
HMI Cabang Bandung dari Atas Langit
10 April 2008
Soal Pejabat Ngantuk : Salah Presiden atau Lemhanas

Selasa, 8 April 2008, SBY marah-marah sampai menggebrak podium tempat ia berpidato. Sebabnya adalah terdapat seorang peserta Forum konsolidasi pimpinan daerah, bupati, walikota, dan ketua DPRD kabupaten/
Tulisan ini tidak ingin membela si pejabat ngantukan. Bagi kami, rakyat, pejabat yang tidur saat pembahasan soal rakyat pastilah pejabat tidak becus alias tidak bertanggungjawab. Hanya saja kami melihat ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan hal tersebut. Dan yang paling menarik dibahas adalah dua kemungkinan berikut:
Pertama, Lemhanas tidak dapat membuat jadwal training yang baik sehingga membuat peserta kelelahan (kalah sama panitia LK I). Atau asupan nutrisi, vitamin dan kalori yang diberikan kurang baik. Selayakya training, wajar jika acara dilakukan energizer, ice breaking, atau games-games motivasi yang menyegarkan. Entah tidak memahami training atau bagaimana, sepertinya ini tidak diperhatikan. Yang dipilih adalah
Kedua, apa yang disampaikan Presiden SBY memang bukan materi yang ramai untuk dibahas. Karena, walaupun bahasan SBY membahas hal yang penting, namun penyampaiannya tidak menarik. Jika sesi SBY menyampaikan ceramah disusul dengan diskusi wajar jika peserta bersemangat, dan begitu pula sebaliknya. Kita tahu mendengarkan ceramah terkadang membosankan. Atau mungkin karena semua pejabat tahu, sesama pejabat merekasudah biasa menyampaikan hal-hal normative seperti apa yang disampaikan SBY kepada bawahannya, namun mereka sendiri tidak mengerjakannya. Sehingga mereka berfikir SBY hanya melakukan lips service saja, alias basa-basi-b***k.
Terakhir, mungkin saja si pejabat punya pandangan yang sama seperti Gus Dur. Dalam Kick Andi, Gus Dur pernah menjawab perihal tidurnya di forum siding dan jawabannya yang tetap nyambung dengan bahasan, ‘wong mereka ngomongnya disitu-situ saja, jadi pas saya bangun pasti obrolannya ngga jauh dengan sebelum saya tidur’. Mungkin si pejabat ngantuk memikirkan hal yang sama pada SBY.
Respon YouTube terhadap Pemerintah Indonesia Tentang film ’Fitna’



Pihak YouTube dalam pernyataannya yang dikirimkan kepada Departemen Komunikasi dan Informatika menyampaikan bahwa mereka menghargai pernyataan pemerintah
Film Fitna yang dibuat politisi sayap kanan belanda Geert Wilders telah menyinggung perasaan umat Islam di dunia. Sampai-sampai pemerintah
Dalam emailnya YouTube mengungkapkan bahwa mereka respek terhadap peraturan sebuah Negara. Ini merupakan sinyal positif. Pasalnya, selama ini YouTube konsisten utuk menjaga situsnya tetap bersh dari film porno yang nyata-nyata tabu di
Bagi dunia internet, khususnya para blogger, YouTube memiliki peran yang cukup penting. Ketimbang menghapus akses YouTube, pemerintah selayaknya mengusahakan peghapusan film Fitna atau pemblokiran akses film tersebut dari
Terlebih lagi, dalam email tersebut YouTube mengajak pemerintah dalam hal ini Depkominfo untuk berkomunikasi. Fitna adalah ekspresi keliru dari dari pandangan dangkal barat mengenai Islam. Yang selayaknya tidak perlu ditanggapi dengan menghalangi diambilnya manfaat yag lebih besar dari keberadaan YouTube.
Fitna memperlihatkan mispersepsi politik stres yang fanatismenya bahkan sudah tidak lagi di apresiasi di negerinya sendiri. Sepertinya masalah ini akan selesai dengan komunikasi antara Depkominfo dan YouTube. Depkominfo dapat menjelaskan betapa menyinggung Islam dapat memancing reaksi berupa kemarahan yang sangat keras dari umat Islam, termasuk umat Islam di Indonesia.
YouTube mungkin mengirabahwa film Fitna sama saja seperti ekspresi kritis (bahkan kadang mengejek) terhadap politisi-politisi barat, bahkan politisi selevel presiden yang memang biasa diolok-olok melaui internet dan film-film di YouTube.Bahkan bukan hanya kritik, namun banyak juga yang bernada melecehkan namunn objekfilmnya tak bergeming.
Depkominfo dapat menjelaskan bahwa kasus Fitna sangat berbeda dengan apa yang biasa terjadi di barat. Perasaan ummat Islam pasti gerah dan marah jika agamanya difitnah, apalagi menyinggung baginda kanjeng Nabi, kekasih Ummat Islam, Rasulullah saw. yang mulia.
Beruntung Depkominfo dalam hal ini melakukan konsultasi dengan para blogger yang jelas-jelas mumpuni mengenai penyikapan kasus-kasus didunia maya. Semoga kita tidak kehilangan manfaat teknologi yang dimiliki YouTube hanya gara-gara ulah politisi ngantuk Belanda paranoid yang sedang snewen.
Antara Rumah Sakit, Pasien Miskin dan Calon Dokter
Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari menginstruksikan rumah sakit seluruh Indonesia wajib menerima pasien miskin denganpelayanan yang baik. Hal ini disampaikan dalam acara pameran alat medis si Surabaya HospitalExpo 2008, di Hotel JW Marriott Surabaya.
Pernyataan Menkes tersebut mengindikasikan adanya perlakuan yang berbeda selama ini terhadap pasien miskin. Perlakuan tidak menyenangkan (alias menyebalkan) memang sering diterima oleh pasien miskin. Dari mulai menunggu terlalu lama, diping-pong, sampai ditolak rumah sakit.
Beberapa hari lalu saya mendapat gambaran mengenai mengapa hal tersebut dapat terjadi. Salah seorang pejabat rumah sakit ,yang juga masih alumni HMI, menyatakan bahwa selamaii kuantitas dokter mempengaruhi pelayanan rumah sakit. Minimnya kuantitas dokter selama ini masih menjadi kendala.
Saya lalu bertanya, ’bukannya dokter itu banyak Bang?’. Diapun menjelaskan, memang banyak karena kita ada di bandung. Di kota besar dokter memang tersedia dan relatif lebih banyak. Namun untuk kota yang dianggap banyakdokternya saja itu masih tidak mencukupi. Di Bandung misalnya, kita masih bisa melihat bahwa nama dokter jaga yag sama dibeberapa rumah sakit. Langkanya dokter tersebut membuat dokter memiliki bargaining position untuk memilih pekerjaannya. Termasuk harus dipenuhinya keinginan untuk mendapat tunjangan ini-itu.
Nah, dapat kita bayangkan sekarang ketika menjadi dokter itu berarti harus menempuh pendidikan yang sangat mahal, dan bertambah mahal. Uang masuk universitas saja kita sudah biasa kita dengar angka-angka fantastis,140 juta, itupun minimal. BHPMN (atau BHMN, apapun namanya) telah membuat biaya kuliah makin mahal. Kita bisa memprediksi kelangkaan makhluk yang satu ini kedepannya.
Hal tersebut akan membuat kebijakan rumah sakit yang walaupun memiliki standard ideal menjadi terbatasi kewenangannya. Jadi, seperti membeli rokok di kapal laut yang hanya ada satu-satunya penjual atau naik angkot ditengah malam yang harganya otomatis naik. Maka pelayanan layak terhadap pasien miskin (masih akan) menjadi mimpi disiang bolong.
Seperti inilah nasib warga miskin di negeri penuh lips service, makan janji, makan ati...
Menyambut Serangan Fajar
Bagaimana cara masyarakat miskin menolak serangan fajar? Berikut adalah kalkulasi asal-asalan dari mahasiswa yang biasa makan gorengan tempe yang semakin tipis seperti silet, akibat harga minyak tanah yang walaupun diambil dari tanah harganya tetap naik sampai kelangit.
Para pengamat politik pilkada mulai mencermati kemungkinan adanya serangan fajar. Serangan fajar bukan berarti serangan Ketua Umum PB yang bernama Fajar. Serangan fajar adalah istilah yang digunakan untuk menyebut tindakan tim sukses membujuk pemilih beberapa saat menjelang pencoblosan dengan cara membagi-bagikan uang. Jumlahnya bervariasi. Sekarang mari kita berhitung apa artinya uang tersebut bagi rakyat miskin. Agar kita tahu apa makna kata-kata ’jangan ambil uang dari serangan fajar!’.
Anggaplah calon membagikan uang sebesar Rp. 30.000. artinya adalah:
Minyak tanah satu liter Rp. 3000.
Beras satu liter Rp. 6000
Telur satu kilo Rp. 13.000
Tempe segebleg Rp. 4000
Minyak goreng seperapat Rp. 4000
Total Rp. 30.000.
Artinya, mengatakan ’jangan ambil duit serangan fajar!’ sama dengan ’jangan makan tiga hari’. Nah, bagi orang-orang kaya yang peduli nasib demokrasi silahkan pikirkan apakah efektif menyarankan jangan ambil duit serangan fajar. Kita boleh saja menganggap money politik menghasilkan pejabat-pejabat tidak becus bermental korup. Tapi di zaman segala serba mahal rasanya itu tidak cukup.
Jika anda pengamat politik yang kaya dan soleh, paling jago anda puasa senin dan kamis. Orang miskin puasanya lebih panjang. Ketika ada tawaran berbuka kita dengan penuh percaya diri dan merasa suci berkata ’jangan ambil duit serangan fajar!’, ’Haram!’. Apa melarang orang buka puasa nggak dosa?![]()
26 Maret 2008
REVOLUSI AL-HUSEIN; Menjaga Risalah Muhammad
Imam Husein ra. telah mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan terhadap kedzaliman dan pemerintahan yang tiran. Imam tahu bahwa memilih jalan ini akan mengorbankan keluarga dan para sahabatnya, pun beliau tahu betul akan pengaruh serta dampak pilihannya itu. Berkat kebangkitan Imam Husein, wajah asli Yazid bin Muawiyah dan orang-orangnya tersingkap.
Sejak awal, Yazid dan pengikutnya telah menginjak-nginjak nilai-nilai Islam, menyimpan kedengkian dan permusuhan terhadap Islam dan para pemimpin Islam. Di sini, pengorbanan Imam Husein berhasil menghancurkan dinasti Bani Umayyah. Berikutnya, kaum muslimin mulai menyadari betapa besarnya musibah yang menimpa mereka. Musibah inilah yang kemudian menggulingkan pemerintahan Bani Umayyah.
Imam Husein as. juga mengajarkan kepada kita bahwa inilah jalan yang harus ditempuh oleh para pengikutnya. “Kalian jangan takut karena jumlah kalian sedikit”. Kuantitas itu tidak akan berpengaruh. Kualitas kesiapan dan jihad lah yang akan menentukan. Mungkin saja jumlah suatu kelompok itu besar, namun mereka kehilangan nilai kualitas. Sebaliknya, ada kelompok yang berjumlah sedikit dan mampu menunjukkan kualitas mereka.
Pada jaman itu, beberapa saat setelah kesyahidan Imam Husein as, sebagian orang yang jahil mempropagandakan bahwa beliau adalah pemberontak yang melakukan makar terhadap pemerintahan yang berdaulat. Meski begitu, cahaya Ilahilah yang tetap memancar dan menerangi dunia.
Lalu, apakah tugas ulama, khatib dan lapisan rakyat lainnya di bulan Muharam yang suci ini? Imam Husein as. bersama keluarga dan para sahabatnya telah menjelaskan tugas itu kepada kita, yaitu berjuang di tengah medan dan berdakwah di luar medan. Sejalan dengan pengorbanan Imam Husein as. di medan jihad yang bernilai di sisi Allah dan berperan dalam kesuksesan misi beliau, khotbah-khotbah Imam Sajjad ra dan Siti Zainab pun mengambil peran dengan nilai yang nyaris sama atau bahkan sebanding dengan pengorbanan Imam Husein ra.
Orang-orang suci ini menjelaskan kepada kita bahwa dalam menghadapi kedzaliman, baik laki-laki maupun wanita, tidak boleh ada yang merasa takut. Di hadapan Yazid, Siti Zainab berdiri dengan tegas dan tegar, tetapi merendahkan diri sedemikian rupa di hadapan khalayak. Citra buruk Imam Husein ra dan Ahlul Bait yang diupayakan oleh Bani Umayyah menjadi pudar dan hilang berkat pidato-pidato Imam Sajjad as dan Siti Zainab di Syam serta Kufah.
Saat ini, negara Islam buah dari revolusi Imam Husein as juga menghadapi masalah serupa. Badan Amnesti Internasional yang lebih tepat disebut sebagai “Badan Pemalsu Internasional“ atau “Badan Pembohong Internasional“, mengeluarkan pernyataan yang memuat tuduhan-tuduhan terhadap Republik Islam Iran, persis dengan tuduhan musuh-musuh Islam terhadap Rasulullah, keluarga 'Ahlulbayt' dan para pengikutnya di masa-masa awal Islam. Orang akan merasa malu tatkala ia hidup di dunia yang di dalamnya media massa dan organisasi sebesar Badan Amnesti Internasonal itu membual kebohongan. Orang akan menilai sebuah kebejatan ketika ia hidup di jaman yang di dalamnya nilai-nilai kemanusiaan dikorbankan demi kepentingan kekuatan adidaya yang hanya mementingkan materi belaka. Sangat disesalkan bahwa sekarang ini kita dihadapkan pada bencana semacam ini.
Seberapa besar dan agungnya tujuan seseorang itu, sebesar itu pula kesusahan yang harus ia tanggung. Kita sendiri pun masih belum tepat mengukur seberapa besar kemenangan kita. Kelak, dunia akan mengerti prestasi kemenangan kita ini. Namun begitu, semakin besar kemenangan ini, sekadar itu pula besarnya musibah dan cobaan kita. Kita tidak boleh lalai, lalu berharap bahwa musuh-musuh kita akan membiarkan kita, tidak lagi berusaha melenyapkan kita.
Perjuangan pengikut Husein saat ini harus seperti perjuangan pada awal revolusi. Tugas para ulama, khatib Jum'at dan imam Jamaah maupun orang-orang yang hendak berbicara dengan masyarakat, ialah menerangkan kepada mereka hakikat dan tujuan perjuangan Imam Husein ra. serta apa yang telah dikorbankannya demi perjuangan itu sampai akhir, meski sebenarnya perjuangan beliau belum berakhir, dan akan terus berlanjut.
Kita semua, khususnya para penceramah, harus sadar bahwa kalau bukan karena kebangkitan Imam Husein as, sesungguhnya kita tidak akan menang dalam revolusi. Persatuan rakyat yang merupakan sumber kemenangan (revolusi) kita muncul berkat acara-acara duka memperingati Asyura. Acara-acara ini efektif sebagai lahan dakwah Islam. Imam Husein as, penghulu para syahid kita, telah menyiapkan sarana bagi rakyat supaya mereka bisa berkumpul tanpa ada kesulitan. Masjid-masjid menjadi basis perjuangan rakyat. Dari sanalah asas-asas kemenangan Revolusi dirintis dan dibangun.
Selain itu, Imam Husein ra. telah mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan di dalam dan luar medan pertempuran; apa yang harus dilakukan oleh mereka yang berjuang dengan senjata, dan apa yang harus didakwahkan oleh mereka yang berada di garis belakang. Beliau ajarkan bagaimana cara sebuah kelompok yang kecil jumlahnya menghadapi kelompok yang besar jumlahnya. Keluarga beliaupun mengajarkan kepada kita apa yang dilakukan setelah musibah itu terjadi. Apakah kita harus menyerah? Ataukah kita turunkan perlawanan kita? Ataukah kita harus menapaki jejak Siti Zainab ra. yang senantiasa tegar di tengah musibah yang tiada bandingnya itu dan berbicara lantang di hadapan kekufuran dan menyingkapkan kebenaran? Atau seperti Imam Sajjad ra. yang dalam keadaan sakitnya tetap melakukan dakwah meneruskan misi ayahnya?
Peran Acara-acara Asyura dalam Kebangkitan Rakyat
Dulu, orang munafik selalu katakan bahwa kita adalah bangsa cengeng, supaya kita meninggalkan majlis-majlis Asyura. Majlis-majlis Asyura ini dibubarkan oleh orang-orang yang justru hadir di dalamnya. Apakah pembubaran ini karena majlis-majlis itu sendiri, atau karena mereka tahu betapa pengaruhnya seperti sekarang ini hingga mereka larang penyelenggaraannya? Masalah pelarangan dan pembubaran ini sama halnya dengan pelarangan memakai serban, karena mereka tahu bahwa serban dan majlis duka ini akan menjadi penjegal kepentingan dan maksud mereka.
Di bulan Muharam ini, ketika sebuah bangsa berkumpul guna memperingati kesyahidan Imam mereka, jangan kalian kira bahwa mereka datang hanya untuk menangisi Imam Husein ra. Beliau sama sekali tidak butuh pada tangisan kita. Tangisan itu tidak berpengaruh (untuk pribadi beliau, peny.). Bahwa rahasia majlis-majlis ini menyatukan mereka dan mampu membangun persatuan di antara mereka. Di dua bulan suci ini (Dzulhijjah dan Muharam, pent.), khususnya hari Asyura, jutaan orang berkumpul dan menyerukan hal yang sama. Dalam bulan Muharam ini, para ulama dan khatib dapat memobilisasi rakyat dan menghimpun mereka untuk satu tujuan. Sisi politis majlis-majlis ini lebih kuat ketimbang sisi-sisi lainnya. Para Imam maksum ra. tidak sembarang -waliyadzubillah- menyuruh kita untuk berkabung mengenang musibah mereka. Bukan sebuah omong kosong bahwa kita akan mendapatkan pahala saat kita menangis, membuat orang menangis, atau pura-pura menangis sekalipun, demi memperingati musibah para Imam kita.
Inti masalah Asyura bukan menangis atau pura-pura menangis, tapi muatan politis yang ada pada majlis-majlis itu. Melalui majlis-majlis ini, para Imam ra. hendak menyatukan pengikut-pengikutnya dan menggerakkan mereka untuk bangkit. Kebanyakan perkara dalam Islam bermuatan politis. Perkumpulan-perkumpulan yang sebagiannya diwajibkan atau di-mustahab-kan, semua itu adalah perkara-perkara politik. Salah satunya ialah haji. Di Mekkah, jutaan muslimin berkumpul untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan Allah atas mereka. Ini bukan berarti Allah membutuhkan ibadah kita. Dia mewajibkan haji supaya muslimin berkumpul di satu tempat dan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Islam.
Sayangnya, karena ketidaktahuan kita, umat Islam memang berkumpul di Mekkah, tapi tidak tergerak untuk mendiskusikan masalah-masalah mereka. Alhamdulillah, sekarang kondisinya lebih baik. Alangkah baiknya bila negara-negara muslim itu sedikit mau bersusah payah; memberangkatkan sebagian rakyatnya untuk ibadah haji hingga mereka bisa berkumpul bersama saudara muslim lainnya. Muatan politis dalam muktamar besar umat Islam di haji adalah mereka saling berkenalan dengan yag lain, mengetahui persoalan masing-masing dan mencoba untuk mencari jalan keluarnya.
Kalaulah umat Islam menunaikan ibadah haji itu sesuai dengan ruhnya, tentu mereka tidak akan menemui berbagai problema seperti sekarang ini. Alangkah baiknya bila negara-negara ini memahami hikmah pertemuan rakyat mereka di Mekkah dan tidak tunduk pada kekuatan-kekuatan besar dunia. Semestinya, mereka paham bahwa memerintah rakyat yang sadar masih lebih baik daripada memerintah rakyat yang tidak tahu apapun. Menanggung musibah karena menentang kediktatoran lebih baik ketimbang hidup senang dalam perbudakan.
Kalau saja mereka sadari hal ini, mereka akan permudah urusan haji bagi rakyat mereka hingga ibadah haji berlangsung lebih baik lagi daripada sekarang. Atau, mereka sendiri yang pergi haji dan duduk bersama pemimpin-pemimpin negara lain guna membicarakan jalan keluar persoalan mereka. Bila hal ini terwujud, niscaya Islam akan menjadi satu kekuatan dunia yang tak tertandingi.
Selain haji, ada hari raya Ied; satu momentum lain bagi muslimin untuk berkumpul dan bersatu. Begitu pula halnya shalat Jumat yang di dalamnya dibicarakan berbagai masalah terkini.
Masih ada lagi shalat-shalat Jamaah di masjid yang memungkinkan umat Islam untuk berkumpul. Namun, harus diusahakan supaya masjid tidak hanya dipenuhi oleh orang-orang tua, tapi anak-anak muda juga harus bergabung bersama mereka di sana. Kalaulah kita sadari betapa banyak masalah politik yang bisa diselesaikan dalam perkumpulan-perkumpulan seperti ini, kita tidak akan lagi santai seperti sekarang dan membiarkan masjid-masjid itu hanya disesaki orang-orang tua. Bulan-bulan Muharam, Shafar dan Ramadhan menyediakan banyak berkah yang tak terhitung. Berkumpulnya rakyat untuk mengenang Imam Husein ra. tetap memiliki berkahnya yang khas, meskipun masalah-masalah politik tidak diungkapkan di dalamnya.
Upaya-upaya Anti Syiar Islam
Pada jaman ini, kita lebih membutuhkan majlis-majlis ini lebih dari sebelumnya. Jangan sampai kita dihasut oleh sebagian orang agar kita mengeluarkan uang demi membiayai perang atau korban perang. Memang benar bahwa kita harus memperhatikan para korban perang dan menghargai jerih payah mereka selama perang. Namun, bukan berarti kita harus konsentrasikan diri kita pada hal ini saja dan melalaikan yang lain. Sekali lagi saya tekankan, sekarang kita lebih memerlukan majlis-majlis takziyah (berkabung) lebih dari dahulu. Pawai-pawai Asyura ini telah memiliki warna politis dan hal ini memang benar adanya.
Ketika jutaan orang berkumpul memperingati kesyahidan Imam Husein ra. dan di sana para penceramah membicarakan isu-isu terkini, di sinilah revolusi. Maka itu, kita perlu syiar Ilahi. Sebagian orang sering katakan bahwa karena kita sudah sukses dalam Revolusi, maka itu kita tidak lagi perlu peringati Asyura. Ini sama saja kita tidak perlu shalat lagi setelah kita menang dalam Revolusi. Justru kita lakukan revolusi demi menegakkan shalat dan syiar-syiar Islam lainnya, bukan untuk meruntuhkannya.
Menjaga Asyura tetap hidup adalah tugas politis-ibadah. Berkabung untuk orang yang telah berkorban demi Islam berperan besar dalam memajukan Revolusi. Kita sangat berhutang budi pada majlis-majlis duka ini serta takbir-takbir yang diserukan di sana. Kita tidak berkumpul dalam majlis-majlis ini untuk sekedar menangis. Tangisan kita adalah tangisan politis. Air mata kita akan menghancurkan segala hal yang membendung laju Islam. Dahulu pun mereka berkumpul meratapi kekalahan Iran dari Islam. Kalau memang tangisan itu bermasalah, kenapa mereka tangisi kegagalan usaha mereka untuk memenangkan Majusi atas Islam?
Sebagian orang tidak menginginkan kita menangisi seorang syahid Islam. Mereka mempermasalahkan tangisan kita. Mereka tidak ingin kita menghidupkan sebuah peristiwa yang menghancurkan penguasa jaman itu. Mereka tidak menghendaki kita menjadi seperti para syahid Karbala. Mereka dikerahkan untuk mempropagandakan hal ini dan sayangnya, sebagian orang malah tertipu oleh mereka. Para pemuda hendaknya sadar bahwa semua propaganda anti syiar Islam berasal dari musuh-musuh Islam dan disebarkan oleh antek-antek mereka. Rahasia apa yang ada di balik serban dan majlis duka ini hingga mereka berambisi melenyapkannya?
Sesungguhnya majlis-majlis ini adalah pemersatu umat. Mereka takut para penceramah bicara di tengah rakyat dan menyatukan mereka menentang penjajahan. Inilah yang mereka takutkan. Sekedar kita hadir untuk menangis tidak membuat mereka kuatir, selama minyak kita dapat mereka ambil lalu kita diam saja. Yang mereka kuatirkan ialah dampak politis majlis-majlis ini.
Mereka yang percaya diri sebagai cendekiawan jangan berpikir bahwa majlis-majkis semacam ini sudah tidak berarti lagi. Sebaliknya, tangisan-tangisan inilah yang melancarkan kerja kita dan menyadarkan rakyat. Kita harus mengambil pelajaran dari pelarangan Ridha Khan terhadap penyelenggaraan majlis Asyura. Ia larang majlis Asyura karena majlis ini bertentangan dengan kepentingannya. Ia menentang ulama karena mereka membahayakannya. Begitu pula halnya ketika ia menentang universitas. Ia baru menyetujui universitas yang seiring dengan kemauannya dan para alumnusnya bekerja untuk kepentingannya.
Di jaman ini, kekuatan besar dunia menentang semua lambang keislaman bangsa kita. Propaganda mereka lebih berbahaya dibanding ancaman perang mereka. Di sini kita harus serius menghadapinya. Bangsa yang siap untuk syahid dan memandang kesyahidan sebagai sebuah kemuliaan, tidak pernah merasa takut perang. Lagi pula, ketika perang terjadi, rakyat kita akan lebih sadar dan gairah. Kalian lihat, perang ini (perang Iran-Irak, pent.) kembali menghidupkan Iran dan membakar semangat Revolusi. Meskipun mulanya kita pikir bahwa perang ini merugikan, tapi ia juga membawa sisi positif.
Memang kita banyak kehilangan anak-anak muda kita dalam perang ini. Namun, demi tegaknya Islam, tidak ada yang perlu ditakuti. Yang harus dikhawatirkan adalah propaganda-propaganda mereka untuk meliburkan majlis-majlis Asyura.
Rakyat harus bersungguh-sungguh menjaga syiar-syiar Islam, khususnya Asyura ini. Makna sabda Rasulullah saww. “ Aku bagian dari Husein “ adalah bahwa agamaku tetap hidup karena dia. Semua karunia ini berasal dari syahadah beliau. Bani Umayyah bertekad untuk melenyapkan Islam dari muka bumi dan mendirikan kerajaan Arab. Dengan syahadahnya Imam Husein as, umat Islam sadar bahwa permasalahannya bukan antara Arab dan non-Arab, tapi antara Islam dan kekufuran.
Oleh karena itu, jagalah acara-acara Asyura ini baik-baik. Sesungguhnya acara seperti ini menghidupkan Islam dalam hati kalian. Jagalah shalat Jamaah, shalat Jumat, hari-hari besar Islam dan syiar-syiar di dalamnya. Para ulama dan penceramah harus membimbing rakyat dalam masalah-masalah sosial-politik Islam dan jangan lupakan majlis-majlis takziyah ini, karena dengannya kita akan tetap hidup.
Islam telah diperjuangkan dengan sepenuh jiwa Rasulullah saww, Keluarga dan para sahabatnya. Ia datang dari sisi Allah dan ini harus kita jaga. Seandainya -wal`iyadzubillah- kemenangan kita berubah menjadi kekalahan lantaran kelalaian kita, ketahuilah bahwa Islam tidak akan kembali tegak hingga berabad-abad nanti. Ini adalah tugas besar yang harus kita terima. Akhir jalan ini adalah syahadah dan berjumpa dengan Sayyid Al-Syuhada Al-Husein as serta manusia-manusia seperti beliau. Ini adalah puncak harapan semua pecinta Allah.
Kita dengar bagaimana para pemuda juang kita beribadah dengan khusuk di malam hari dan berjihad penuh semangat di siang hari. Ini adalah suatu kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita. Jagalah nikmat ini sebaik-baiknya.
Kalian para ulama yang ada di sini dan di tempat lain bertanggung jawab menjaga dan mensyukuri nikmat Allah ini. Tabligh adalah perwujudan rasa syukur kalian. Kalian harus sampaikan kepada masyarakat asas yang diperjuangkan Imam Husein as, jalan yang ia tempuh dan kemenangan yang ia turunkan untuk Islam. Kalian sampaikan bahwa jalan memperjuangkan Islam adalah apa yang beliau lakukan. Beliau tahu bahwa seorang dzalim yang punya segalanya (dari segi materi) tidak bisa dilawan dengan segelintir orang. Namun begitu, beliau yakin bahwa kesyahidanlah yang akan memenangkan Islam dan memberinya nafas baru. Kematian para syahid mihrab, mulai dari Madani -semoga Allah merahmatinya sampai syahid terakhir kita inilah yang akan menjamin kemenangan kita. Kesyahidan ini akan mempermalukan musuh-musuh kalian di hadapan dunia, meski semua dunia memihak musuh kalian. Dengan semua kebohongannya, Badan Amnesti Internasional pun memiliki bukti yang kuat. Bukti kuat mereka adalah pernyataan kaum munafik (Barisan Mujahidin Khalg, peny.) bahwa kita mencintai kesyahidan.
Ini adalah bulan Muharam dan saatnya kalian harus bertabligh. Hidupkan Muharam ini, karena semua yang kita miliki sekarang berasal dari Muharam dan acara-acara yang diadakan di bulan ini. Kita tablighkan Muharam dan kesyahidan Imam Husein ra. Harus kita pahami seberapa besar pengaruh syahadah beliau di dunia sampai sekarang ini. Kalau bukan karena acara-acara duka ini, kita tidak mungkin menang dalam perjuangan kita. Semangat para pejuang kita di medan tempur tetap berkobar karena cinta mereka terhadap Imam Husein ra.
Dalam acara-acara yang diadakan di bulan ini, hendaknya para ulama dan penceramah membicarakan masalah-masalah sosial-politik terkini dan menerangkan tugas rakyat dalam menghadapi musuh. Sampaikan bahwa kita masih berada di tengah jalan, dan insya Allah kita akan sampai di akhir jalan ini. Di atas jalan ini, apabila kita tetap konsisten, kemenangan mutlak akan kita dapatkan, tentunya kalau kita tidak lalai dan lengah.
Hanya Allah Pelindung Kita
Di awal revolusi, kita serukan slogan “Republik Islam, Merdeka, Tidak Barat-Tidak Timur “. Kita serukan bahwa kita tidak di bawah Amerika, tidak pula di bawah Soviet. Kita hanya berada di bawah lindungan Allah dan panji Imam Husein ra. Ketika kalian teriakan ini, tentu dunia akan bangkit menentang kalian.
Sejak awal, harus kalian camkan bahwa tatkala Imam Husein ra. bangkit menghadapi sekian banyak musuhnya dan syahid di jalan ini, kita pun harus siap untuk menjadi syahid. Sekarangpun, kalian lihat, meski sebagian imam Jum'at kita diteror, mereka yang masih hidup menyuarakan lantang bahwa mereka akan tetap mengemban tugas mereka dan siap untuk mati. Kita semua harus berjiwa demikian.
Apabila kalian bangkit berjuang demi materi, demi ekonomi, demi kesenangan duniawi, tentu akan banyak orang yang tidak merasa puas. Nyatanya, rakyat tidak pernah mengeluh. Hanya mereka yang tidak dapat menikmati kembali kesenangan materi merasa tidak puas terhadap Revolusi. Sebaliknya, mereka yang bangkit demi Islam tidak punya angan-angan buta dan harapan kosong. Rakyat semacam ini tidak akan pernah merasa lelah. Mereka tidak akan mengatakan, karena kita tidak mampu mendapatkan kesenangan duniawi, maka tinggalkan saja Revolusi. Mereka melihat bahwa harapan mereka, yaitu Islam, telah tercapai.
Sekarang, gelombang revolusi kalian telah menyebar ke penjuru dunia. Dahulu, orang Iran identik sebagai budak Amerika. Hari ini, semua orang akan membenarkan bahwa Republik Islam telah keluar sebagai pemenang, dan kemenangannya akan terus berlanjut.
Optimis terhadap Rahmat Allah!
Saudara-saudara sekalian, ”Jangan putus asa dari rahmat Allah”1. Dengan inayah Allah, kalian akan menang di dunia ini. Kalian adalah bangsa pejuang. Bangsa yang tidak bisa melakukan apa-apa, niscaya terlantar, menyendiri. Amerika, Soviet atau kekuatan lainnya akan takut pada bangsa seperti ini. Dahulu, mereka perlakukan rakyat seperti domba yang mereka perah dan potong-potong.
Memang benar sebagian orang dapat mengenyangkan perut mereka, tapi bagaimana dengan orang-orang miskin? Kebanyakan rakyat kita berada di bawah garis kemiskinan, tidak mendapat perhatian sama sekali. Sekarang, dalam waktu yang singkat ini, mereka mendapatkan perhatian lebih daripada waktu itu. Namun, hal ini bukan alasan dan tujuan kebangkitan kalian. Ini hanyalah sebuah berkah Revolusi. Yang kalian inginkan ialah Islam. Yang kalian harapkan ialah kemerdekaan dari belenggu Barat dan Timur, dan ini telah kalian capai. Untuk itu, jagalah hasil jerih payah kalian ini.
Sekarang, sebagian orang percaya bahwa kita harus pilih Barat atau Timur. Tapi, rakyat sudah tidak lagi menerima hal ini, karena sejak awal kebangkitan, mereka ingin merdeka dan bebas dari keduanya. Setelah darah anak-anak mereka tumpah di jalan ini, apakah mereka bersedia berbalik ke belakang? Tidak, mereka tidak akan lakukan hal ini dan akan tetap teguh di jalan mereka.
Jangan lupa bahwa kalian telah unjuk kekuatan di hadapan dunia. Semua dibuat bingung bagaimana cara menghadang kekuatan kita. Sebelum ini, belum pernah sebuah kelompok kecil mampu memamerkan kekuatannya melawan kekuatan-kekuatan besar dunia.
Kalian telah hidupkan Islam dan kalian bertanggung jawab untuk menjaganya. Mulai dari para marjie (mujtahid) sampai talabeh (pelajar agama) yang baru memulai, semua berkewajiban untuk melindungi Islam. Para penceramah bertanggung jawab untuk membangunkan rakyat melalui khutbah-khutbah mereka. Para ulama dan imam Jamaah hendaknya bergabung bersama rakyat di pos-pos mereka. Alhamdulilah, rakyat pun selalu siap dan kita patut berterima kasih kepada mereka.
Sejujurnya, kita benar-benar berhutang budi kepada mereka yang telah memberikan apa yang mereka miliki dan tidak meminta balasan dari kita, mulai dari wanita-wanita tua yang memberikan apa yang mereka simpan selama hidup, sampai orang-orang yang memecahkan celengan mereka demi Islam, semua turut serta dalam perjuangan.
Saya tidak mampu untuk menghargai mereka sepenuh-penuhnya. Saya hanya bisa berharap semoga Allah selalu memberikan inayah-Nya kepada mereka. Dan, semoga Allah melindungi kalian semua, sehingga kita dapat menjaga majlis-majlis duka Imam Husein ini dengan semestinya. Wassalamu`alaikum wa rohmatullah wa barokatuhBagaimana Menjadi Khalifatullah ?

Ayat di atas termasuk dari sekian firman Allah Ta’ala yang senantiasa segar dibahas dan dikaji. Hingga saat ini para ulama, khususnya Mufassirin (ahli tafsir Al-Qur’an), belum puas-puas dan tidak henti-hentinya mengungkap dan mengeksplorasi sedalam-dalamnya maksud dari ayat tersebut, untuk mendapat kebenaran darinya. Alasan mereka jelas dan sederhana. Karena ayat ini menyangkut eksistensi manusia yang sebenarnya.
Dengan memahami ayat tersebut secara baik dan benar, maka akan terpecahkan sebuah problema yang maha besar, yaitu hakikat manusia. Memahami hakikat manusia sangat menentukan pandangan dunia, ideologi, sikap, perjalanan dan nasib manusia setelah mati.
Hakikat manusia bagi sebagian pemikir dan filosof, masih merupakan teka-teki yang membingungkan. Umat Islam dengan pancaran cahaya Al-Qur’an, sedikit banyaknya terbantu dalam mengetahui hakikat manusia dan itu pun tergantung sejauh mana mereka memahami ayat tersebut.
Apa Arti Khalifah ?
Islam memandang manusia sebagai khalifatullah, yakni khalifah Allah. Itulah hakikat manusia. Namun apakah dalam kenyataannya setiap manusia itu khalifatullah ? Bukankah di antara mereka ada yang kafir ?
Lalu apa yang dimaksud dengan manusia sebagai khalifatullah ? Atau bagaimana manusia menjadi khalifatullah ? Sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab, maka terlebih dahulu harus dipahami arti khalifah itu sendiri.
Khalifah atau khilafah, berasal dari akar kata khalaf yang berarti di belakang punggung, meninggalkan sesuatu di belakang atau sesuatu yang menempati tempat sesuatu yang lain. Al-Qur’an menyebut kata khalifah atau khilafah dengan berbagai turunannya. Selain itu, Al-Qur’an menggunakan kata khalifah untuk manusia dan untuk selain manusia.
Misalnya, ayat yang berbunyi, “Dialah yang menciptakan malam dan siang silih berganti (malam menempati siang dan siang menempati malam), bagi mereka yang mau berpikir atau bersyukur.” (QS. Al-Furqan : 62)
Ketika kata khalifah digunakan untuk manusia, kata ini mempunyai arti yang netral. Maksudnya bisa untuk kebaikan dan bisa pula untuk keburukan.
Allah Ta’ala berfirman, “Lalu datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang melalaikan shalat dan mengikuti hawa napsu. Mereka kelak niscaya akan mendapatkan kesesatan.” (QS. Maryam : 59).
Atau firman-Nya yang berbunyi, “Maka datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang mewarisi kitab.” (QS. Al-Araf : 169).
Tetapi ketika kata khalifah disandarkan (di-idhafah-kan) kepada Allah atau Rasulullah, maka kata itu mengandung arti yang positif. Maksudnya jika yang diganti (al-mustakhlif) baik, maka yang menggantikannya (khalifah, mustakhlaf) harus baik juga. Andaikata tidak, maka akan merusak reputasi mustakhlif.
Manusia adalah khalifah dari Allah dan Allah adalah puncak segala kebaikan dan kesempurnaan. Dengan demikian manusia adalah titisan dari kebaikan dan kesempurnaan-Nya.
Jadi manusia berkedudukan sebagai wakil atau pengganti Allah di muka bumi. Yaitu manusia yang mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mengubah alam. Manusia yang sedikit banyak mengetahui rahasia alam. Semua itu tidak berlaku bagi makhluk-makhluk lainnya. Akan tetapi bagaimana dengan kenyataan umat manusia zaman kini ? Sungguh ironis sekali bukan.
Syekh Taqi Mishbah berpendapat, bahwa kedudukan khalifah tidak terbatas pada Adam saja, melainkan manusia lain pun dapat menduduki jabatan khilafah dengan satu syarat, yaitu mengetahui asma. (lihat kitab Ma’arif Al-Qur’an, juz 3 hal 73).
Allamah Thabathaba’i dalam kitab Tafsir al-Mizan, jilid I halaman 116 berkata, “Khilafah tidak terbatas pada diri Adam as. saja, tetapi para keturunannya pun sama menduduki khilafah tanpa kecuali.”
Selanjutnya beliau menjelaskan, “Maksud mengajarkan asma, adalah menyimpan ilmu pada manusia yang senantiasa akan tampak secara bertahap. Jika manusia mendapatkan petunjuk, maka dia akan membuktikannya secara faktual (bil-fi’li) setelah sebelumnya berupa potensial (bil-quwwah).”
Maksud dari penjelasan Allamah Thabathaba’i di atas, bahwa manusia secara potensial adalah khalifah Allah. Namun yang mampu memfaktualkannya tidak semua manusia. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang mampu. Hal itu kembali kepada ikhtiar dan pilihan manusia itu sendiri.
Kriteria-Kriteria Khalifatullah
Pada dasarnya manusia diciptakan Allah sebagai khalifah-Nya. Namun hal itu masih berupa potensi, seperti yang telah dijelaskan terdahulu. Nah, agar potensi itu berkembang dan mewujud secara nyata, maka terdapat seperangkat kriteria yang harus dipenuhi sehingga manusia benar-benar menjadi khalifah Allah Ta’ala.
Kriteria-kriteria khalifah Allah itu ialah :
1. Ilmu
Kriteria pertama adalah ilmu. Pada ayat yang telah disebutkan terdahulu, selanjutnya disambung dengan ayat yang berbunyi :
“Dia mengajarkan kepada Adam asma (nama benda-benda) semuanya, kemudian dia mempertunjukkannya kepada para malaikat. Lalu Allah berfirman (kepada para malaikat), Sebutkanlah kepada-Ku asma-asma itu, jika kalian memang benar ?” (QS. Al-Baqarah : 31).
Para mufasir berbeda pendapat tentang pengertian asma yang tercantum pada ayat di atas. Walaupun mereka berbeda pendapat tentang makna asma, tetapi yang pasti (al-qadru al-mutayaqqan) dan yang tidak diperselisihkan lagi adalah, bahwa Adam as. dibekali pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh para malaikat.
Sebagaimana telah kami kutipkan komentar Allamah Thabathaba’i tentang pengertian asma pada surat Al-Baqarah ayat 31 tersebut, beliau menjelaskan bahwa Allah telah menyimpan dalam diri manusia sebuah potensi ilmu, yang akan nyata dengan mengikuti petunjuk-Nya.
Jadi untuk menjadi khalifatullah, hendaknya manusia berilmu. Manusia yang tidak berilmu, tidak bisa dikatakan sebagai khalifah Allah Ta’ala.
1. Iman dan Amal Shaleh
Pada ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman tentang kriteria khalifah-Nya.
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shaleh (kebaikan), bahwa Dia akan menjadikan mereka sebagai khalifah di bumi, Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah. Sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah diridhai-Nya untuk mereka, serta Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka menjadi aman setelah mereka ketakutan. Mereka akan menyembah-Ku dan tidak menyekutukan apapun dengan-Ku. Dan barang siapa kafir setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55).
Pada ayat tersebut, jelas sekali Allah berjanji akan menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai khalifah yang akan menguasai dan memimpin dunia. Tetapi janji itu akan ditepati-Nya bagi manusia yang beriman dan beramal kebaikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kriteria lain dari seorang khalifatullah adalah iman dan amal shaleh.
3. Memberi keputusan dengan benar (haqq) dan tidak mengikuti hawa nafsu
Allah Ta’ala berfirman,
Wahai Dawud, Kami jadikan engkau sebagai khalifah di bumi, maka berilah keputusan dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad : 26).
Allamah Thabathaba’i berkata, “Maksud khalifah di sini secara lahiriah adalah khalifatullah, sama dengan maksud dari firman Allah (pada surat Al-Baqarah ayat 30). Dan seorang khalifah seharusnya menyerupai Yang mengangkat dirinya sebagai khalifah dalam sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Oleh karena itu khalifatullah di bumi hendaknya berakhlak dengan akhlak-akhlak Allah, berkehendak, bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki dan memberi keputusan dengan keputusan Allah serta berjalan di jalan Allah.”
Selanjutnya ketika menafsirkan ayat :
“Dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
Beliau berkata, “Makna ayat tersebut adalah, bahwa engkau dalam memutuskan (sesuatu) janganlah mengikuti hawa nafsu, maka engkau akan disesatkan olehnya dari kebenaran, yaitu jalan Allah.” (Tafsir al-Mizan, jilid 17 halaman 194-195).
2. Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Rasulullah saww bersabda, “Barang siapa ber-amar ma’ruf dan nahi munkar, maka dia adalah khalifatullah di bumi dan khalifah kitab-Nya serta khalifah rasul-Nya.’’ (Kitab Mizan al-Hikmah, jilid 3 hal 80).
Kesimpulan
Menggapai Kemuliaan di sisi Allah SWT
Husein Alkaff
Pada hari ini kita memperingati dua peristiwa historis yang sangat berarti bagi kehidupan kita semuanya, selaku pecinta Ahlulbait a.s.; hari wafat dan hari kelahiraan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. Yang pertama terjadi pada tanggal 2 Jumadilakhir dan yang kedua terjadi pada tanggal 20 Jumadilakhir lima tahun setelah kenabian..
Berbicara tentang Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. adalah berbicara tentang sosok pribadi agung dan suci. Pribadi yang diabadikan oleh Rasulullah saww dalam berbagai hadis dan kesempatan. Sebelum kami jelaskan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan pribadi suci tersebut, ada beberapa mukadimah atau pengantar yang mudah-mudahan dapat membantu kita untuk memahami sosok pribadi Sayyidah Fathimah Az Zahra as.
Banyak Hadis dari Rasulullah saww yang menegaskan bahwa manusia di mata Allah SWT mempunyai kedudukan yang sama. Hadis Nabi yang populer berbunyi :
“Manusia itu sama seperti anak sisir. Sama tingginya atau sama rendahnya. Bangsa Arab tidak lebih utama dari bangsa Ajam (yang bukan Arab) dan bangsa Ajam tidak lebih mulia dari bangsa Arab.”
Manusia sebagai makhluk Allah SWT, di mata Allah SWT sama. Mereka mempunyai potensi dan tugas yang sama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Perbedaan suku, perbedaan warna kulit, perbedaan bangsa, adalah hanya variasi kreasi dari Zat Maha Mampu. Hadis-hadis lain yang serupa berkenaan dengan ini banyak, yang tidak perlu dijelaskan satu persatu.
Kemudian kita selaku orang mukmin, yang mempunyai pandangan dunia (world view) berdasarkan tauhid, meyakini bahwa Allah SWT adalah Pencipta alam semesta (tauhid al khaliqiyyah) dan Pemelihara alam semesta (tauhid al Rububiyyah). Hanya padaNya kemuliaan yang sebenarnya. Manusia secara fitrah ingin menjadi mulia. Manusia secara fitrah ingin dihormati, ingin mendapatkan kehormatan dan kemuliaan. Lantas dimanakah kemuliaan yang hakiki, dimanakah beradanya kehormatan yang sebenarnya ?.
Kita selaku orang mukmin meyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa kehormatan dan kemuliaan yang hakiki hanya berada pada Allah SWT. Dalam sebuah ayat disebutkan, “Sesungguhnya kehormatan (al ‘izzah) semuanya hanya milik Allah “ (QS: al Nisa’139), atau ayat,
“ Katakanlah, Sesungguhnya kemuliaan (al-fadhl) berada di tangan Allah, Ia berikan kepada yang Ia kehendaki “.(QS: Ali Imran 73)
Sementara orang menduga bahwa kemuliaan dan kehormatan yang haqiqi berapa pada selain Allah SWT. Sebagian mengira kemuliaan dan kehormatan ada pada kedudukan. Sebagian mengira kemuliaan dan kehormatan ada pada nasab dan keturunan. Sebagian lagi mengira kemuliaan dan kehormatan ada pada harta kekayaan. Semua itu adalah kemuliaan dan kehormatan yang semu, yang relatif. Kemuliaan yang hakiki, kehormatan yang mutlak hanya ada pada Allah SWT.
Lantas dengan apa dan bagaimana manusia dapat meraih kemuliaan dari Allah SWT ?. Al-Qur’an menjelaskan dalam berbagai ayatnya, bahwa kemuliaan-kemuliaan Illahi, nilai-nilai keTuhanan dan kehormatan-kehormatan yang hakiki dapat diraih dengan tiga perkara; Pertama adalah Takwa, Allah SWT berfirman :
“Hai manusia kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbagai suku dan kabilah agar kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa ” (QS. Al-Hujuraat : 13)
Dengan takwa seseorang akan lebih mulia di sisi Allah dari yang lainnya. Dengan takwa seseorang akan lebih terhormat di mata Allah dari pada manusia-manusia lainnya. Menjadi seorang yang bertakwa tentu membutuhkan usaha yang maksimal. Imam Ali Zainal Abidin as. dalam mendefinisikan takwa menyatakan :
“Hendaknya Allah tidak mendapatkan kamu disaat Ia melarang kamu, dan tidak kehilangan kamu disaat memerintahkan kamu “.
Ketika Allah melarang kita dari perbuatan keji dan kemaksiatan maka Allah tidak mendapatkan kita melakukan itu. Ketika Dia menyuruh kita shalat dan berbuat kebaikan, maka Allah tidak kehilangan kita dalam perbuatan tersebut. Itu arti takwa. Takwa juga diartikan, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Orang yang menjaga ketakwaannya secara konsisten, aka menjadi pribadi yang ma’shum dan suci. Jadi, orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang ma’shum, orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Tanpa takwa seseorang tidak akan mendapatkan kehormatan di sisi Allah SWT.
Ayat dan hadis tentang takwa banyak sekali. Di sini akan dijelaskan hanya beberapa ayat tentang akibat atau pengaruh takwa dalam kehidupan manusia. Misalnya, Allah SWT berfirman :
“Barang siapa bertakwa kepada Allah SWT, maka Allah akan selalu memberikan kepadanya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka.”
(QS. Ath-Thalaaq: 2-3)
Artinya orang yang bertakwa senantiasa mendapatkan jalan keluar, tidak pernah gelisah, tidak pernah kesempitan. Segala problema yang dihadapinya akan berakhir dengan solusi yang melapangkan jiwanya. Orang Takwa senantiasa tenang dan mendapatkan solusi yang paling baik. Solusi yang dia peroleh dari Allah SWT sebagai akibat dari takwanya kepada Allah SWT. Orang yang bertakwa akan selalu mendapatkan rezeki dari Allah SWT. Tentu rezeki di sini tidak bisa kita artikan dalam arti yang sempit. Rezeki dari Allah tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga berbentuk spiritual, kepuasan ruh. Ada orang yang mungkin secara materi mendapatkan materi yang berlimpah ruah tapi dia tidak mendapatkan kepuasan (qana’ah) sama sekali, itu berarti belum dapat rezeki. Sementara di pihak lain ada manusia yang mendapatkan kehidupan yang pas-pasan tapi dia tenang dan puas, itulah rezeki yang sebenarnya. Rezeki dari Allah adalah kepuasan jiwa dan kekenyangan jiwa. Bukan banyaknya materi yang dikumpulkan oleh seseorang. Berapa banyak orang yang kaya raya tapi merasa miskin terus, merasa tidak mempunyai apa-apa sama sekali. Berarti dia belum mendapatkan rezeki dari Allah SWT. Oleh karena itu dalam doa Kumail, “Ya Allah jadikanlah aku ini merasa rela danpuas dengan pembagian-Mu (rezeki-Mu ).”
Itu arti rezeki yang sebenarnya. Orang yang takwa senantiasa mendapatkan rezeki dalam arti kepuasan jiwa. Tidak pernah merasa miskin jiwanya dari materi. Ini efek dan buah dari takwa.
Juga dalam ayat lain, Allah menegaskan, “Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajari kalian.” (QS: al Baqarah 282) Orang yang bertakwa akan mendapatkan ilmu dari Allah SWT. Ilmu bisa diraih oleh seseorang tidak hanya dengan belajar, seperti yang umum dilakukan oleh manusia, tetapi dengan pensucian jiwa lewat takwa. Bertakwalah niscaya Allah akan mengajarkan kepada kalian. Allah yang mengajar secara langsung.
Untuk mendapatkan kemuliaan yang hakiki, pertama, dengan Takwa. Yang kedua dengan jihad dan berjuang. Jihad mempunyai dua arti; jihadun nafs dan jihad bil amal. Maksud jihad di sini bukan jihadun nafs, karena jihad dalam pengertian ini sudah terkandung di dalam takwa. Seringkali orang cenderung memaknai jihad dengan jihadun nafs. Dengan dalih jihadun nafsi lebih afdhol dan lebih akbar. Boleh jadi hal itu, karena ketidak siapan mereka jihad bil amal. Jihad nafs seakan-akan tidak mempunyai konsekwensi apapun kecuali memperbanyak dzikir, berkhalwat, bertasawuf, sehingga jihad bil amal dilalaikan dan dinomerduakan. Pengertian jihad di sini adalah jihad dengan raga, jihad bil amal bukan jihadun nafs, karena jihad nafs sama dengan takwa tadi. Sehubungan dengan jihad ini, Allah berfirman : “Allah mengutamakan ( memuliakan) derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang tidak berjihad ”.(QS: al Nisa’ 95 ). Jihad di sini sekali lagi adalah jihad bil amal, bukan jihad nafs.
Sesuai dengan ayat ini bahwa untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt. adalah berjihad. Banyak contoh dari jihad bil amal. Jihad dengan harta, menginfaqkan hartanya dalam rangka memperjuangkan agama Allah SWT., berjihad dengan ilmu, mengajar, berjihad dengan tenaga. Inilah contoh-contoh jihad. Artinya ketika seseorang ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta’ala, maka harus berjihad. Tanpa jihad tidak mungkin seseorang dapat kemuliaan dari Allah SWT.
Jadi jihad adalah cara yang kedua untuk meraih kemuliaan dari Allah SWT. Dalam ayat lain tentang jihad, Allah berfirman :
“ Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami, akan kami berikan kepada mereka petunjuk menuju jalan-jalan Kami ”. (QS: al ‘Ankabut 69)
Berjihad artinya kita mengorbankan apa yang kita miliki untuk Allah dan agamaNya. Para Nabi, para Imam dan orang-orang soleh lainnya adalah contoh-contoh yang jelas sebagai pribadi-pribadi yang memperjuangkan agama Allah Ta’ala dan mengorbankan apa yang mereka miliki. Rasulullah saww sendiri adalah tokoh para mujahidin. Imam Husain as adalah contoh lain dari seorang yang telah mengorbankan apa yang ia miliki sampai dengan tetesan darah terakhir..
Dikhawatirkan, sekarang ini ada trend orang lebih cenderung menafsirkan jihad dengan jihadun nafs saja. Mengalihkan jihad ke arti yang sempit, yaitu jihadunnafs. Memang dalam sebuah Hadis disebutkan, setelah Nabi pulang dari sebuah peperangan dengan para sahabatnya beliau mengatakan, “ Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar “. “ Apa itu jihad akbar ? “. Nabi menjawab, “ jihadun nafs “. Memang jihadunnafs adalah jihad yang besar, dalam arti bahwa perang dengan nafsu itu selamanya tidak akan pernah berakhir. Selagi kita masih hidup di dunia ini dan masih mempunyai jiwa, maka selama itu pula kita wajib berjihad dengan nafsu. Tetapi jihadunnafs bukanlah satu-satunya jihad.
Ada jihad lain yang barangkali lebih berat yaitu jihad bil amal. Dikhawatirkan ada penyelewengan makna jihad, yang seakan-akan dibatasi dengan jihadunnafs saja. Sebenarnya orang yang telah jihad dengan nafsunya, maka pasti akan melakukan jihad kecil. Orang yang telah mengalahkan nafsunya dan menyiapkan dirinya untuk Allah Ta’ala, maka dia pasti terpanggil untuk jihad yang kecil. Jadi tujuan dari jihadunnafs adalah jihad bil amal. Yakni mengorbankan apapun untuk Allah SWT. Tidak hanya disibukkan dengan jihadunnafs saja tanpa beringsut ke jihad dengan raga. Itulah jihad kecil, jihad dengan amal, jihad dengan raga sebagai upaya untuk sebagai upaya untuk meraih kemuliaan yang hakiki di sisi Allah swt.
Yang ketiga, untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah adalah dengan ilmu (ma’rifah). Allah SWT berfirman : “Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah : 11)
Untuk mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala adalah pengetahuan atau ma’rifah tentang Allah SWT. Ilmu apa atau ilmu tentang apa yang menjadikan seseorang mulia di sisi Allah swt. ? Ilmu di sini adalah ilmu tentang Tuhan, tentang Kebenaran yang Mutlak. Bukan sembarang ilmu. Memang ilmu sebagai knowledge lebih baik dari bukan ilmu (jahil). Ilmu tentang ketuhanan (makrifatullah) yang menjadi fondasi paling elementer dari agama. Dalam khutbah pertamanya di kitab Nahjul Balaghah, Imam Ali a.s. mengatakan, “ Fondasi din yang pertama adalah ma’rifah tentangNya “. Kemudian beliau meneruskan bahwa kesempurnaan ma’rifatullah adalah men-tauhidkan-Nya dan seterusnya tentang pengetahuan yang benar tentang Allah swt. Ringkasnya, dalam khutbah ini, beliau ini menjelaskan ma’rifah Allah yang benar..
Semua manusia, khususnya kaum muslimin meyakini wujudnya Allah swt., tetapi pengetahuan atau ma’rifah mereka tentang-Nya benar atau tidak, wallahu alam. Pengetahuan tentang Tuhan yang belum benar bukan fondasi pertama dari agama. Fondasi pertama agama adalah ma’rifatullah yang benar. Itulah yang dimaksud oleh Allah SWT, bahwa seseorang yang berma’rifah dengan benar sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ali as adalah caraya untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.
Jadi dengan tiga perkara manusia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. Yang mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa, berjihad dan berma’rifah kepada Allah SWT. Tanpa tiga ini maka seseorang tidak mungkin mendapatkan kemuliaan dan kehormatan dari Allah SWT.
Kemudian sepanjang sejarah manusia dari Nabi Adam as sampai hari ini dan hari-hari yang akan datang terus sampai hari kiamat, pasti ada setiap zaman manusia-manusia yang mulia di sisi Allah SWT. Dalam sebuah ungkapannya yang indah sekali Imam Ali as mengatakan, “Senantiasa Allah SWT mempunyai manusia-manusia yang mana Allah membisikkan kepada mereka dengan bisikan-bisikanNya.”. Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil memberikan kesempatan kepada seluruh manusia untuk meraih kemuliaan Illahi. Tidak hanya untuk satu generasi manusia saja. Tidak hanya untuk orang-orang yang hidup pada zaman Nabi saja.
Selain para Nabi as. dan Imam Ahlulbait a.s. yang telah memperoleh kemuliaan dan kehormatan di sisi Allah SWT, juga sejumlah wanita, dan kita sekarang memperingati hari kelahiran dan wafatnya Sayyidah Fathimah Az-Zahra’ as, yang telah mendapatkan hal yang sama atau hampir sama dengan mereka. Dalam Qur’an, Allah menjelaskan kepada kita dua sosok wanita yang tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT.; Sayyidah Asiyah, istri Fira’un dan Sayyidah Maryam binti ‘Imran. Kedua wanita ini, sebagaimana yang Allah sebutkan nanti, merupakan teladan dan model yang baik tidak hanya untuk wanita mukminah saja, tetapi untuk seluruh kaum mukminin, laki-laki maupun perempuan. Allah swt. berfirman,
“ Allah memberikan contoh untuk orang-orang yang beriman, istri Fir’aun ketika ia berkata, ‘ Ya Tuhan, bangunkan untukku di sisi-Mu rumah di surga, dan selamatkan aku dari Fir’aun dan kelakuannya dan selamatkan aku dari orang-orang yang dhalim. Dan Maryam putri ‘Imron yang telah menjaga kehormatannya, lalu Kami tiupkan padanya dari Ruh-Ku. Dan Dia telah membenarkan kalimat-kalimat Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya, dan Dia termasuk orang-orang yang tunduk “.( QS : al Tahrim 11-12 ) .
Setelah keterangan di atas tadi, mari kita lihat sosok pribadi Sayyidah Fathimah Zahra’ as. Beliau adalah wanita teladan, bukan teladan wanita. Dua kata yang berbeda. Beliau adalah wanita teladan untuk semuanya, baik laki-laki maupun perempuan, bukan teladan wanita, yang hanya untuk wanita saja. Lantas mengapa Sayyidah Fathimah Az Zahra as sedemikian rupa dipuji oleh Allah SWT dan Rasulullah saww.? Mengapa beliau mendapatkan kemuliaan yang sedemikian tinggi sehingga dia menjadi wanita teladan untuk kaum mukmin dan mukminah ?.
Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah Ta’ala ada tiga cara; takwa, jihad dan ma’rifah. Sekarang mari kita lihat dari keterangan-keterangan hadis dan kehidupan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. Pada kesempatan ini akan dijelaskan beberapa riwayat tentang ketakwaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. sehingga beliau menjadi wanita penghulu alam semesta (sayyidatu nisaa’i al ‘aalaminn). Sebelum menjelaskan tentang tiga hal itu, kami ingin menjelaskan beberapa sifat atau julukan yang disandang oleh Sayyidah Fathimah Az Zahra as.
Yang pertama adalah al-Batul. Beliau digelari dengan sebutan al-Batul. Apa arti al-batul ?, Ibnu al Mandzur meriwayatkan bahwa Nabi saww. ditanya tentang sebab dinamainya al batul?, beliau menjawab, “Karena dia tidak sama dengan perempuan zamannya dan perempuan umat manusia dari segi kesuciannya, kemuliaannya, agamanya dan kedudukannya”. Dikatakan juga, karena dia telah melepaskan diri dari dunia menggantungkannya hanya untuk Allah SWT. Itulah salah satu sebab dinamakan atau digelarinya Fathimah dengan Al-Batul.
Juga beliau digelari dengan al-Muhaddatsah, orang yang dapat bisikan dari malaikat. Memang setelah Rasulullah Saww meninggal dunia, tidak ada lagi wahyu turun. Namun ilham atau bimbingan dari Allah Ta’ala terus berlaku sampai akhir zaman, tetapi tidak berbentuk wahyu. Kita mengenal istilah ilham atau tahdits atau muhaddatsah. Tiga kata ini punya arti yang sama yaitu mendapatkan bimbingan berupa bisikan dari Allah SWT. Perbedaannya dengan wahyu adalah kalau wahyu bimbingan dari Allah Ta’ala yang diberikan kepada para Nabi untuk disampaikan kepada manusia dan berbentuk ajaran atau syariat. Sementara ilham atau tahdits adalah bimbingan dari Allah SWT. tidak untuk disampaikan kepada manusia dan tidak berbentuk ajaran. Wahyu berhenti dengan wafatnya Rasulullah Saww. Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. adalah figur wanita yang mendapatkan bisikan atau bimbingan langsung dari Allah SWT.
Ada sebuah Hadis Al Ishak bin Ja’far bin Muhammad bin Isa bin Zaid bin Ali, dia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq a.s. berkata, Fathimah dipanggil dengan sebutan muhaddatsah karena para malaikat turun kepada Fathimah Az-Zahra a.s. dari langit. Para malaikat itu membisiki Fathimah Az Zahra as sebagaimana mereka membisiki Maryam putri Imran.” Malaikat berkata kepada Fathimah, “Wahai Fathimah sesungguhnya Allah telah memilih anda, telah mensucikan anda dan mengangkat anda di atas wanita-wanita alam semesta ini. Wahai Fathimah, taatlah kepada Allah SWT, bersujudlah, ruku’lah bersama orang-orang yang ruku.”
Para malaikat disamping berbisik dengan Fathimah, juga Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat. Pada suatu malam Fathimah Az Zahra as berkata kepada para malaikat, “Bukankah wahai para malaikat, wanita yang diutamakan atas seluruh wanita alam semesta adalah Maryam binti Imran?”. “Wahai Fathimah kata para malaikat, Sesungguhnya Maryam adalah pemimpin wanita zamannya. Tetapi Allah SWT menjadikan anda penghulu wanita zamanmu dan zaman Maryam serta seluruh wanita awal dan akhir.”
Jadi ada dialog antara Sayyidah Fathimah Az Zahra as dengan para malaikat. Oleh karena itu Sayyidah Fathimah digelari Al-Muhadasah. Demikian pula Sayyidah Zainab as putri dari Sayyidah Fathimah, seorang perempuan yang muhaddatsah, yang mendapatkan bisikan dari para malaikat. Inilah beberapa gelar dari Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. Tentu kemuliaan yang beliau raih dikarenakan tiga hal tadi; takwa, jihad dan pengetahuan tentang Allah SWT.
Ada beberapa hadis tentang ibadahnya Sayyidah Fathimah Az Zahra a.s. Disebutkan dari Imam Hasan bin Ali a.s. Beliau berkata, “Aku lihat ibuku Fathimah a.s. bangun di tengah malam di mihrabnya pada malam Jum’at. Beliau senantiasa ruku, sujud sampai cahaya subuh muncul. Aku mendengarkan ibuku Fathimah mendoakan kaum mukmin dan mukminat dan menyebutkan nama-nama mereka. Beliau banyak mendoakan mereka kaum mukmin dan mukminat, tetapi beliau tidak mendoakan untuk dirinya sendiri. Aku berkata kepada ibuku, “Wahai ibuku mengapa anda tidak mendoakan dirimu sendiri, sebagaimana mendoakan orang lain?”. “Wahai putraku, kata Fathimah, tetangga dulu baru penghuni rumah (al jaaru tsumma al daaru)“.
Juga ada Hadis yang lain dari Muhammad al Baqir bin Ali al Sajjad bin Husein bin Ali a.s. Pernah Rasulullah saww mengutus Salman al Farisi untuk menjumpai Sayyidah Fathimah Az Zahra. Salman menjelaskan, ketika aku sampai di rumah Fathimah, aku berdiri di depan pintu Fathimah lalu aku mengucapkan salam kepada Fathimah. Aku mendengarkan suara Fathimah membaca Al-Qur’an di depan, sementara suara batu untuk penggiling gandum di belakang rumahnya. Salman menyampaikan ini kepada Rasulullah saww tentang kejadian yang menarik itui. Rasulullah mendengarkan dari Salman tentang Fathimah, lalub beliau berkata, “ Wahai Salman, putriku Fathimah Az-Zahra a.s. Allah telah memenuhi hatinya dan raganya dengan iman sampai ubun-ubunnya. Dia khusyu atau menyibukkan dirinya untuk taat kepada Allah SWT, sehingga Allah mengirim untuknya malaikat yang namanya Jukoil, atau Jibril namanya. Allah mengutus malaikat Jibril kepada Fathimah untuk memutarkan gilingan untuk menggiling gandum tersebut. Allah telah memberikan kepadanya bantuan dari malaikat.
Itulah Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. yang telah mendapatkan kehormatan dari Allah SWT karena ketakwaannya. Tentu banyak lagi Hadis-Hadis tentang Sayyidah Fathimah Az Zahra as, sebagai akhir tentang ibadah Sayyidah Fathimah atau ketakwaannya. Pernah Rasulullah saww bertanya kepada Ali bin Abi Thalib a.s. “Wahai Ali, bagaimana engkau mendapatkan istrimu Fathimah?” Imam Ali menjawab, “Ya Rasulullah istriku Fathimah sebaik-baiknya orang yang membantuku menyembah Allah SWT ” Itulah komentar Imam Ali tentang Sayyidah Fathimah a.s., istri yang membantu suaminya untuk taat, tidak untuk bermaksiat.
Juga Rasulullah bertanya kepada Fathimah, “Wahai Fathimah apa yang engkau dapatkan dari suamimu Ali ?” Jawabannya, “ Ia sebaik-baiknya suami yang bertanggung jawab.” Inilah contoh suami istri yang ideal. Istri yang membantu suaminya untuk taat kepada Allah Ta’ala dan suami yang paling baik dalam bertanggung jawab pada keluarganya.
Hasan Basri menjelaskan tentang Sayyidah Fathimah Az Zahra as, tidak ada di umat ini seorang perempuan yang lebih ‘abid (ahli ibadah) dari Fathimah. Dia berdiri di tengah malam sampai kedua kakinya bengkak.
Kemudian disamping ketakwaannya, Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. juga seorang mujahidah dan pembela ayahandanya, Rasulullah saww. Diriwayatkan dalam sebuah Hadis, pernah suatu hari Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. keluar ikut perang bersama ayahnya dan suaminya dalam fathu Makkah. Sayyidah Fathimah berangkat dari Madinah bersama Rasulullah dan suaminya Ali bin Abi Thalib as. Beliau membuat kubah ( kemah ) di sebuah pegunungan sebelum masuk Mekah. Rasulullah mandi di atas tersebut dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. menutupinya dari pandangan manusia. Artinya dalam banyak kesempatan Sayyidah Fathimah as ikut mendampingi Rasulullah dan suaminya dalam peperangan.
Juga riwayat ketika sejumlah sahabat Nabi berbai’at kepada khalifah pertama, sementara Ahlulbait sedang mengurusi jenazah Rasulullah Saww. Setelah selesai proses pembai’atan, Imam Ali a.s. bersama Sayyidah Fathimah keliling ke semua sahabat Ansor dan Muhajirin, tentang mengapa kalian telah berbai’at kepada kepada khalifah pertama. Yang pergi menjumpai para sahabat tidak hanya Imam Ali a.s., tetapi beliau bersama istrinya Sayyidah Fathimah Az Zahra as. sebagai bukti kesetiaan dan loyalitas Sayyidah Fathimah kepada Imam Ali as sebagai imam zamannya.
Juga Sayyidah Fathimah as mendapatkan kemuliaan dari Allah karena pengetahuannya tentang Allah SWT. Tentu kita semua pernah mendengarkan bagaimana Sayyidah Fathimah pernah berkhutbah di hadapan para sahabat Nabi setelah dilantiknya khalifah pertama. Beliau menegur mereka semua di atas mimbar ayahandanya Rasulullah saww. karena ketergesaan mereka membicarakan masalah suksesi. Dengan lantang beliau menegur mereka, sampai-sampai khalifah kedua dan pertama nangis ketakutan mendengar ceramah dan teguran Sayyidah Fathimah dalam menegur sejumlah sahabat Rasulullah saww.
Dalam khutbahnya itu, beliau menjelaskan masalah tauhid, kenabian, imamah dan ma’ad ( hari akhir). Menyampaikan dasar-dasatr agama (ushuluddin) di atas mimbar di hadapan para sahabat dengan bahasa yang sangat indah sekali. Itulah keilmuan atau ma’rifah Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. tentang al Haq, tentang kebenaran. Oleh karena itu, pantaslah beliau menjadi manusia teladan untuk semua manusia sepanjang zaman, karena ketakwaannya, jihadnya dan ma’rifahnya kepada Allah SWT.
Siapakah Imam Khomeini itu ?
Sejak runtuhnya khilafah (imperium) Otsmaniyah di Turki, tepatnya setelah perang dunia pertama tahun 1919. Negara Turki secara drastis menjadi negara sekuler pertama di negeri-negeri Islam dibawah pimpinan seorang budak Zionis-Yahudi, Mushthofa Kamal Attaturk. Konsekuensi dari tegaknya pemerintahan sekuler adalah jilbab diharamkan, huruf Arab diganti dengan huruf latin, kumandang adzan yang berbahasa Arab dirubah dengan bahasa Turki dan kebijakan-kebiajakan lainnya untuk menghilangkan ciri-ciri Islami dari dataran pantai meditarian dan pesisir Kaspia. Seorang orientalis kontemporer, John L. Esposito berkata, “Semenjak tahun 1924 sampai kepada wafatnya pada tahun 1938, Mustafa Kemal melaksanakan rangkaian pembaharuan yang bersifat sekuler, yang secara tuntas menciptakan negara bercirikan pemisahan agama dan politik sepanjang kelembagaan.....(Islam dan Politik, hal. 133 )
Sejak itu, nasib kaum muslimin makin terpuruk. Karena tidak ada imperium Islam yang kuat setelah itu. Wilayah kaum Muslimin yang terbentang dari Tanja (Maroko) sampai Jakarta (Indonesia) yang meliputi benua hitam Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah dan beberapa dataran Eropa, seperti Albania, Bosnia, Sarajevo dan Ciprus, sampai Timur Jauh (negara-negara Asia Tenggara) menjadi wilayah kolonial bangsa Eropa. Negara-negara mereka bak kue lezat yang diperebutkan dan dibagi-dibagi oleh bangsa-bangsa Eropa yang telah lama menyimpan rasa dendam dan kebencian terhadap Islam. Saya teringat dengan ucapan guru saya yang sangat saya cintai, almarhum Ustadz Husein bin Abubakar Alhabsyi, dihadapan beberapa santrinya, “Lihatlah benua Afrika (sambil menunjukkan benua Afrika dalam peta dunia) yang berwarna warni dan compang camping. Itu adalah peninggalan kaum kolonialis Eropa”. Maksud beliau, negara-negara di Afrika yang tadinya satu dibawah dominasi Turki kemudian dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Italia dan Perancis) terpecah menjadi negara-negara yang kecil.
Terdapat usaha-usaha dari kaum muslimin untuk bangkit menghadapi dominasi Eropa. Sayyid Jamaluddin Asad Abadi (atau Al-Afghani) dengan semangat Pan- Islaminya berkeliling ke negeri-negeri Islam dan berupaya menggugah para pemimpin dan ulama Islam untuk bersatu melawan barat dan para pemimpin Islam yang terbaratkan. Kesadaran kebangkitan Islam juga muncul dari tokoh-tokoh lain seperti Abula’la al-Maududi, Hasan al-Banna, Iqbal Lahore dan yang lainnya. Mereka menjadi kekuatan yang cukup ditakuti oleh para lawan. Meski, mereka tidak berhasil menegakkan pemerintahan Islam yang independen. Apalagi gerakan-gerakan yang mereka pimpin itu surut setelah ditinggalkan oleh para pendirinya.
Memang hampir di setiap zaman dan negeri Islam terdapat gerakan-gerakan yang ber-amar makruf – nahi munkar. Namun semua itu tidak banyak merubah penetrasi Barat di negeri mereka. Sebagian darinya terbatas dengan teritorial negeri mereka, yang lain sebatas penyadaran spirit Islami dan yang lain lagi hanya merobah kedewasaan berpikir saja. Dunia Islam secara umum dirundung rasa frustasi. Harapan untuk bangkit menampakkan identitas diri makin jauh dan kabur.
Di tengah kelesuan dan pudarnya harapan, dunia Islam dikejutkan dengan revolusi Islam Iran pada tahun 1979, yang secara radikal dan total merubah tatanan politik Iran, dalam maupun luar negeri Iran. Dominasi barat (baca: Amerika) yang begitu kuat hilang serta merta tanpa bekas sama sekali. Sistem pemerintahan Pahlevi yang monarkis tumbang. Imam Khomeini ra. dengan revolusi yang spektakuler ingin menyatakan kepada dunia bahwa Iran yang Islami bisa hidup tanpa bersandar pada dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan Uni Soviet (laa syarqiyyah laa gharbiyyah ). Dia menganggap Amerika Serikat sebagai si setan akbar, yang rakus dan ambisius dalam menguasai dunia dengan cara-cara yang licik dan jahat. Yang lebih menarik, sistem pemerintahan Iran sangat unik bagi barat dan kebanyakan politisi dunia . Sistem pemerintahan wilayatul faqih tidak ada dalam kamus politik mereka. Jadi, Imam Khomeini benar-benar merubah sebuah pemerintahan yang tadinya sangat tergantung pada barat, menjadi sebuah pemerintahan yang secara total lepas dari barat. Hal itu memberikan wacana baru bagi dunia Islam dan bahwa di dunia yang mungkin ini tidak ada yang tidak mungkin. Bagi kebanyakan manusia, termasuk di negeri kita juga, bahwa tidak mungkin sebuah bangsa berkembang dan maju tanpa mendekati Barat. Ternyata itu hanya perasaan bangsa yang inferior dan rendah diri. Imam Khomeini ingin menyatakan bahwa kemajuan sebuah negera tergantung kepada Barat itu hanya sekedar mitos yang mengada-ada, dan beliau ingin menghancurkan mitos tersebut. Beliau berkali-kali mengatakan ingin menegakkan Islam Muhammadi yang orisinil. Islam yang belum terkontaminasi dan terkooptasi oleh pemikiran-pemikiran yang membuat Islam kerdil dan tidak relevan dengan dunia modern.
Imam Khomeini ra., sebagai the man of year pada tahun 1979, berhasil menumbangkan boneka Amerika, Syah Reza Pahlevi, dan memotong tangan Amerika. Orangpun memujinya dengan menyebutnya sebagai seorang politikus ulung, seorang ulama faqih, seorang filosof dan seorang a’rif ( baca : shufi).
Lantas apa yang melatar belakangi keberhasilan Imam Khomeini ra.?. Beliau berhasil menumbangkan rezim yang zalim dan menegakkan pemerintahan Islam bukan karena dia seorang politikus, karena banyak politikus lain yang lebih hebat darinya. Juga bukan karena beliau seorang ulama faqih karena banyak ulama yang barangkali lebih afqah darinya. Juga bukan karena dia seorang filosof dan a’rif, karena banyak filosof dan a’rif tetapi tidak seperti beliau.
Imam Khomeini ra. adalah, seperti yang sering dia katakan, hanya seorang santri kecil yang melaksanakan taklif nya terhadap Allah Swt. Beliau dalam menjalankan kehidupannya tidak punya cita-cita dan program yang muluk dan shopisticated. Beliau hanya menjalankan perintah Allah Swt sebaik mungkin dan itu, menurutnya, sebuah keberhasilan. Adapun beliau telah berhasil menegakkan pemerintahan Islam, itu hanya karunia Allah Swt. semata. Beliau tidak pernah mengatakan atau beranggapan, bahwa revolusi Islam berhasil karena usahanya. Keberhasilan beliau terletak pada penyerahan dirinya secara total kepada Allah Swt. Sahabat dekatnya dan juga seorang ulama faqih besar, Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir Shadr, yang mati syahid, beberapa bulan setelah revolusi Islam di Iran dibunuh oleh rezim Ba’ath di Iraq, pernah memerintahkan kepada para pengikutnya, “Meleburlah kalian di dalam Khomeini sebagaimana dia telah melebur di dalam Islam”.
Keberhasilan dalam pandangan Islam bukan ditilik dari sejauh mana seseorang telah menarik massa yang banyak, membangun sekolah, menduduki pemerintahan dan meraih materi, walaupun memperoleh semacam itu tidak selalu tercela. Karena andaikan itu yang dijadikan sebagai ukuran, maka perjuangan para nabi dan rasul terdahulu dianggap tidak berhasil. Dan Adolf Hitler, Stalin, Lenin dan yang lain berhasil dalam menegakkan pemerintahan dan menarik massa. Keberhasilan dalam pandangan Islam dilihat dari sisi sejauh mana seseorang mengabdikan dan menyerahkan dirinya kepada Allah Swt. Dan itulah tugas manusia. Imam ‘Ali as. disaat kepala sucinya ditebas sepontanitas berkata, “Demi Tuhannya Ka’bah, aku sungguh telah beruntung”. Mati syahid di atas kebenaran merupakan keberuntungan dan keberhasilan.
Para nabi, rasul, imam dan orang saleh hanya melihat Allah Swt. sebagai target dan tujuan. Mereka terilhami wahyu Ilahi yang berbunyi “Sesungguhnya kepada Tuhanmu perjalanan berujung”.(QS: 53:42), dan ayat yang lainnya. Keberhasilan dalam bidang materi tidak begitu berarti bagi mereka, dan kegagalan di dalam bidang yang sama juga tidak membuat mereka kecewa. Karena materi tidak lain dari esensi itu sendiri (al-mahiyyah ) yang, dengan meminjam istilah filsafat Transendental (al- Hikmah Muta’aliyah )-nya Mulla Sadra ra., ada dan tidak ada baginya sama “ (lihat , Bidayah al-Hikmah, Allamah Thaba’thabai ra.). Yang mereka cari adalah haqiqat sebagai haqiqat. Keterkaitan mereka dengan materi hanya karena mereka diciptakan di alam materi ansich. Hubungan mereka dengan alam materi sebatas hubungan bagian wujud mereka yang materil. Sedangkan bagian yang non materi tidak bersentuhan dengan materi. Tentang mereka, Imam ‘Ali as. berkata, “ Mereka berhubungan dengan dunia dengan badan, sementara ruh mereka bergelantungan di tempat yang sangat tinggi”. ( al Hikamah 143 Syarah Nahj al Balaghah )
Perjalanan menuju Allah Swt, sebagaimana Imam Khomeini ra. lakukan, merupakan taklif setiap manusia. Amat sangat indah, filosof Ilahi Muhammad Shadruddin al-Syirazi atau yang lebih dikenal dengan Mulla Sadra dalam karya monumentalnya, al Hikmah al-Muta’aliyah fi al Asfaar al Aqliyyah al Arba’ah, menjabarkan perjalanan menuju Allah Swt. dalam empat tahapan. Beliau dalam kata pengantarnya mengatakan, “ Ketahuilah , sesungguhnya para pesuluk dari kalangan ‘urafa dan awliya’ mempunyai empat perjalanan: pertama, perjalanan dari makhluk menuju al Haq. Kedua, perjalanan dengan al-Haq di dalam al-Haq. Ketiga, kebalikan dari yang pertama, perjalanan dari al-Haq menuju makhluk dengan al-Haq, dan keempat, kebalikan dari yang kedua, perjalanan dengan al-Haq di tengah makhluk “.
Yang dilakukan Imam Khomeini ra. hanya berjalan dan bergerak menuju Allah Swt.dan yang menjadi fokus perhatin beliau adalah perjalanan akal dan ruh, bukan materi, kekuasaan dan popularitas. Untuk mencari materi, kekuasaan dan popularitas tidak diperlukan menempuh perjalanan spiritual. Beliau tidak ingin materi, karena sampai akhir hayatnyapun beliau tidak meninggalkan kekayaan kecuali beberapa jilid buku, karpet yang kusam dan beberapa helai pakaian. Menjadi wali faqih pun bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena panggilan tanggung jawab dan tugas di hadapan Allah Swt. Seperti halnya Nabi Yusuf as.: “Jadikanlah aku menguasai kekayaan-kekayaan bumi. Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”.(QS. 12: 55)
Menurut Ayatullah Jawadi Amuli, seperti yang dikutip oleh Sayyid Kamal al-Haydari dalam kuliah filsafat dan kalamnya di Qum , bahwa Imam Khomeini dalam perjalanan spiritualnya telah sampai di tahapan yang ketiga. Penilaian tersebut, tentu, berlaku bagi orang yang sekelas Imam Khomeini atau orang yang punya kompetensi di bidang irfan.
Kata pengantar ini tidak ingin lebih jauh menjelaskan tentang Imam Khomeini ra., karena beliau adalah cahaya. Cahaya (nur) itu jelas dengan dirinya sendiri tanpa bantuan yang lain. Untuk mengetahui cahaya hanya diperlukan membuka mata. Karya-karya tulisnya, murid-muridnya dan revolusi yang beliau pimpin adalah kredit point yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, beliau besar bukan karena orang-orang yang membesarkannya, dan beliaupun tidak merasa besar dengan itu. Beliau besar dengan Sang Maha Besar. Beliau besar karena pengabdiannya kepada Sumber Kebesaran.
Wassalam,
Husein Alkaff
Bandung, 5 Shafar 1421








